AGRESI

May 6, 2010 putri novira

PENGERTIAN AGRESI

Agresi adalah tingkah laku yang diarahkan kepada tujuan untuk menyakiti makhluk hidup lainnya yang ingin menghindari perlakuan semacam itu. Hal ini juga termasuk dalam agresi manusia yang dimaksud adalah siksaan yang diarahkan secara sengaja dari berbagai bentuk kekerasan terhadap orang lain. Dalam hal ini, jika menyakiti orang lain karena unsur ketidaksengajaan, maka perilaku tersebut bukan dikategorikan perilaku agresi. Rasa sakit akibat tidakan medis misalnya, walaupun sengaja dilakukan bukan termasuk agresi. Sebaliknya, niat menyakiti orang lain namun tidak berhasil, hal ini dapat dikatakan sebagai perilaku agresi.

Dalam psikologi dan ilmu sosial lainnya, pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. Agresi dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Perilaku yang secara tidak sengaja menyebabkan bahaya atau sakit bukan merupakan agresi. Pengrusakan barang dan perilaku destruktif lainnya juga termasuk dalam definisi agresi. Agresi tidak sama dengan ketegasan

Ada tiga perbedaan penting.

  1. Apakah kita mendefinisikan agresi sebagai perilaku melukai, ataukah mempunyai maksud melukai disebut juga agresi. Definisi yang paling sederhana dan yang paling disukai oleh orang yang menggunakan pendekatan behaviorisme, adalah bahwa agresi merupakan perilaku yang melukai orang lain. Keuntungan definisi ini adalah bahwa perilaku itu yang menentukan apakah suatu tindakan bisa dikatakan agresi atau tidak.
  2. Antara agresi antisosial dan prososial. Biasanya kita menganggap agresi sebagai sesuatu yang buruk. Memang, tindakan agresif yang timbul dengan maksud untuk melukai seseorang adalah hal yang buruk. Tetapi ada perilaku agresi yang baik. Kita menghargai polisi yang telah menembak seorang teroris. Yang menjadi masalah apakah tindakan agresif melanggar atau mendukung norma sosial itu telah disepakati. Tindakan kriminal seperti membunuh, kekerasan dan pemukulan jelas melanggar norma sosial disebut antisosial. Sedangkan tindakan prososial adalah yang sesuai dengan hukum, seperti disiplin yang diterapkan orangtua atau kepatuhan terhadap komandan perang dianggap penting.
  3. Antara perilaku agresi dan perasaan agresi. Misalnya, seperti rasa marah. Perilaku kita yang nampak belum berarti mencerminkan perasaan internal kita. Bisa saja, seseorang yang merasa sangat marah, tetapi tidak menampakkan usaha untuk melukai orang lain.

FAKTOR PENYEBAB PERILAKU AGRESI

A.  Amarah

Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak (Davidoff, Psikologi suatu pengantar 1991). Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya agresi adalah suatu respon terhadap marah. Kekecewaan, sakit fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing agresi. Ejekan, hinaan dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah yang akan mengarah pada agresi.

B.  Faktor Biologis

Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi (Davidoff, 1991):

  1. Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya,  faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.
  2. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.

3.  Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid ini.

C.  Kesenjangan Generasi

Adanya perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak. permasalahan generation gap ini harus diatasi dengan segera, mengingat bahwa selain agresi, masih banyak permasalahan lain yang dapat muncul seperti masalah ketergantungan narkotik, kehamilan diluar nikah, seks bebas, dll.

D.  Lingkungan

1)  Kemiskinan

Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Hal ini dapat kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari di ibukota Jakarta, di perempatan jalan dalam antrian lampu merah (Traffic Light) anda biasa didatangi pengamen cilik yang jumlahnya lebih dari satu orang yang berdatangan silih berganti. Bila anda memberi salah satu dari mereka uang maka anda siap-siap di serbu anak yang lain untuk meminta pada anda dan resikonya anda mungkin dicaci maki bahkan ada yang berani memukul pintu mobil anda jika anda tidak memberi uang, terlebih bila mereka tahu jumlah uang yang diberikan pada temannya cukup besar. Mereka juga bahkan tidak segan-segan menyerang temannya yang telah diberi uang dan berusaha merebutnya. Hal ini sudah menjadi pemandangan yang seolah-olah biasa saja.

2) Anonimitas

Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam informasi yang besarnya sangat luar biasa. Orang secara otomatis cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan melakukan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang berlebihan tersebut. Terlalu banyak  rangsangan indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik.  Lebih jauh lagi, setiap individu  cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain.

3) Suhu udara yang panas

Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari, tapi bila musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yang terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi tersebut juga menjadi sepi. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992

E.  Peran Belajar Model Kekerasan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga “games” atau pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya. Pendapat ini sesuai dengan yang diutarakan Davidoff (1991) yang mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut.

F.  Frustrasi

Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara berespon terhadap frustrasi.  Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai. Akibatnya  mereka menjadi mudah marah dan berperilaku agresi.

Frustrasi yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak contohnya, beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah di Jerman terjadi penembakan guru-guru oleh seorang siswa yang baru di skorsing akibat membuat surat ijin palsu. Hal ini menunjukan anak tersebut merasa frustrasi dan penyaluran agresi dilakukan dengan cara menembaki guru-gurunya.

Begitu pula tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut. Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.

G.  Proses Pendisiplinan yang Keliru

Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut,  tidak ramah dengan orang lain,  dan membeci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan pemberontakan, terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara) lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (cth: dilarang untuk keluar main, tetapi di dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka).

PERSPEKTIF TEORITIS YANG KELIRU

Strickland (2001) mengemukakan bahwa perilaku agresi adalah setiap tindakan yang diniatkan untuk melukai, menyebabkan penderitaan, dan merusak orang lain.
Myers (2002) menjelaskan bahwa agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai obyek yang menjadi sasaran agresi. Secara umum, agresi adalah tanggapan yang mampu memberikan stimulus merugikan atau merusak terhadap organisme lain.

1. Teori Insting

Teori paling klasik tentang perilaku agresi ini mengemukakan bahwa manusia memilki insting bawaan secara genetis untuk berperilaku agresi (Baron&Byrne, 1997).  Robber Baron menyatakan bahwa agresi merupakan tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut.

Dengan demikian ada 4 unsur dalam agresi :

  • Mempunyai tujuan untuk mencelakakan
  • Ada individu yang menjadi pelaku
  • Ada individu yang  menjadi korban
  • Ketidakinginan korban untuk menerima tingkah laku korban

Tokoh Psikoanalis, Sigmund Freud mengemukakan bahwa perilaku agresi merupakan gambaran ekspresi yang sangat kuat dari insting untuk mati (thanatos). Dengan melakukan agresi, maka secara mekanis individu telah berhasil mengeluarkan energi destruktifnya dalam rangka menstabilkan keseimbangan mental antara insting mencintai (eros) dan insting kemaitian (thanatos) yang ada dalam dirinya. Energi destruktif individu dapat dikeluarkan dalam bentuk perilaku yang tidak merusak, namun yang hanya bersifat sementara. Kemudian aliran Neufreudian merevisi teori-teori tersebut. Dikemukakan oleh Wrighsman&Deaux (1981) menyatakan bahwa agresi adalah bagian dari ego yang berorientasi pada kenyataan sehingga dorongan agresi adalah suatu yang sehat karena bertujuan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang nyata dari menusia. Sementara menurut Mc. Dougall, di dalam diri manusia terdapat insting untuk menyerang dan berkelahi. Hal ini bias disebabkan oleh rasa marah karena terancam atau kebutuhan yang tidak terpenuhi. Konlard Lorens menyatakan bahwa agresi sebagai pemenuhan insting yang bersifat alamiah yang lebih mengarah pada perilaku penyesuaian diri (adaptif) dan bukan karena stimulus atau provokasi dari luar.

2. Teori Frustasi Agresi

Dikemukakan oleh John Dollard dan Neal Miller (1930-an). Teori ini berpendapat bahwa agresi merupakan hasil dari dorongan untuk mengakhiri keadaan frustrasi seseorang sebagai reaksi terhadap peristiwa yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini frustrasi adalah kendala-kendala eksternal yang menghalangi perilaku seseorang. Dapat atau tidaknya frustrasi menimbulkan reaksi agresi bergantung pada pengaruh variabel perantara. Misalnya ketakutan terhadap hukuman karena melakukan tindakan agresi secara nyata, atau tanda-tanda yang berhubungan dengan perilaku agresi sebagai faktor-faktor yang memfasilitasi perilaku agresi.

3. Teori Belajar Sosial

Teori ini menjelaskan bahwa perilaku agresi sebagai perilaku yang dipelajari. Albert Bandura menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil dari proses belajar sosial (Strickland,2001). Belajar sosial adalah belajar melalui mekanisme belajar pengamatan dalam dunia sosial.

Dalam memahami perilaku agresi, aliran ini mengemukakan tiga informasi yang perlu diketahui :

  • Cara perilaku agresi diperoleh
  • Ganjaran dan hukuman yang berhubungan dengan suatu perilaku agresi
  • Faktor-faktor sosial dan lingkungan yang memudahkan timbulnya perilaku agresi.

Dari ketiga informasi tersebut, teori belajar sosial ingin menjelaskan bahwa akar perilaku agresi tidak sederhana berasal dari satu atau beberapa faktor tapi hasil dari interaksi banyak faktor, seperti pengalaman masa lalu individu berkenaan dengan perilaku agresi, jenis-jenis perilaku agresi yang mendapat dan hukuman, serta variabel lingkungan dan kognitif sosial yang dapat menjadi penghambat atau fasilitator bagi timbulnya perilaku agresi.

4. Teori Penilaian Kognitif (Cognitive Appraisal)

Toeri ini menjelaskan bahwa reaksi individu terhadap stimulus agresi sangat bergantung pada cara stimulus itu diinterpretasikan oleh individu. Zillman, sebagai pelopor model transfer eksitasi menyatakan bahwa agresi dapat dipicu oleh rangsangan fisiologis (physicological arousal) yang berasal dari sumber-sember yang netral atau sumber-sumber yang sama sekali tidak berhubungan dengan atribusi rangsangan agresi itu (Krahe,1997).

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN AGRESI

A. Hukuman

Hukuman (punishment) yaitu pemberian konsekuensi yang menyakitkan untuk mengurangi perilaku tertentu. Dalam hal ini yaitu sebagai suatu teknik untuk mengurangi agresi.

Pertama-tama, kita harus perhatikan bahwa, dilihat secara keseluruhan, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa hukuman dapat berhasil dalam mencegah individu untuk terlibat di banyak bentuk perilaku. Namun, dampak seperti ini tidak pasti dan tidak otomatis. Bila hukuman yang diberikan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar, maka hukuman dapat menjadi tidak efektif untuk tujuan ini. Kondisi-kondisi apa yang harus dipenuhi sehingga hukuman dapat berhasil ? Empat hal yang penting adalah: (1) Harus segera-harus mengikuti tindakan agresif secepat mungkin. (2) Harus pasti-probabilitas bahwa hukuman akan menyertai agresi haruslah sangat tinggi. (3) Harus kuat- cukup kuat untuk dirasa sangat tidak menyenangkan bagi penerimanya. Dan (4) harus dipersepsikan oleh penerimanya sebagai justifikasi atau layak diterima.

B. Katarsis

Hipotesis katarsis (chatarsis hypothesis) adalah pandangan bahwa jika individu mengekspresikan kemarahan dan hostility mereka dalam cara yang relatif tidak berbahaya, tendensi mereka untuk terlibat dalam tipe agresi yang lebih berbahaya akan berkurang (Dollard dkk., 1939). dalam berbagai aktivitas yang tidak berbahaya untuk orang lain (misalnya, aktivitas olahraga keras, berteriak-teriak dalam ruangan kosong) dapat mengurangi keterangsangan emosional yang berasal dari frustasi atau provokasi (Zilmann, 1979). Sayangnya ternyata, efek seperti ini hanya sementara. Keterangsangan emosi yang berasal dari provokasi dapat segera muncul kembali ketika individu mengingat kejadian yang membuat mereka marah (Caprara dkk, 1994). Dengan kata lain, faktor-faktor kognitif seringkali membuat dampak katarsis, jika ada hanya berumur pendek. Agresi terbuka tampaknya tidak berkurang dengan (1) melihat adegan kekerasan di media (Geen, 1998), (2) menyerang objek mati (Bushman, Baumeister, & Stack, 1999; Mallick & McCandless, 1966), atau (3) melakukan agresi verbal terhadap orang lain, bahkan beberapa temuan menyatakan bahwa agresi dapat ditingkatkan oleh aktivitas ini.

C. Intervensi kognitif : Permintaan Maaf dan Mengatasi Defisit Kognitif

pengakuan kesalahan-kesalahan yang meliputi permintaan ampun/maaf sesungguhnya seringkali sangat bermanfaat untuk mengurangi agresi (Kameda, Ohbuchi & Agarie, 1989). Sama halnya, alasan-alasan yang baik (good excuses) yang merujuk pada faktor-faktor di luar kontrol pemberi alasan –  juga dapat efektif mengurangi marah dan agresi terbuka dari orang-orang yang telah diprovokasi dalam kadar tertentu (Baron, 1989b; Weiner dkk., 1987). Jadi jika Anda merasa bahwa Anda membuat orang lain marah, segeralah minta maaf. Masalah yang dapat Anda hindari membuat ucapan “saya menyesal” menjadi berharga.

D. Pemaparan terhadap model nonagresif: Pertahanan yang menular

Jika pemaparan terhadap tindakan agresif yang dilakukan orang lain di media atau secara langsung dapat meningkatkan agresi, tampaklah memungkinkan bahwa pemaparan terhadap perilaku nonagresif menghasilkan dampak yang sebaliknya. Bahkan, hasil dari beberapa penelitian, menunujukkan bahwa hal ini memang benar (misalnya, Baron, 1972b; Donnerstein & Donnerstein, 1976).

E. Pelatihan dalam keterampilan sosial: Belajar untuk memiliki hubungan baik dengan orang lain

Salah satu alasan mengapa banyak orang yang terlibat dalam tanggapan agresif adalah karena mereka tidak memiliki keterampilan sosial dasar. Mereka tidak mengetahui bagaimana merespons provokasi dari orang lain dalam cara yang akan menenangkan orang lain ini alih-alih mengganggu mereka. Mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat permintaan atau bagaimana caranya untuk menolak permintaan orang lain tanpa membuat orang lain tersebut marah. Oarang-orang yang tidak memiliki keterampilan sosial dasar tampak terlibat dalam kekerasan dengan proporsi yang cukup tinggi di banyak masyarakat (Toch, 1985), jadi membekali orang-orang ini dengan keterampilan sosial yang lebih baik dapat sangat bermanfaat untuk mengurangi agresi.

F. Respons yang tidak tepat. Sulit Untuk Tetap Marah Jika Anda Tersenyum

Bayangkan Anda berada dalam situasi dimana Anda merasa diri Anda marah dan kemudian seseorang menceritakan sebuah lelucon yang membuat Anda tertawa. Apakah Anda akan tetap marah ? Mungkin tidak. Kemungkinannya besar bahwa ketika Anda tertawa, Anda akan merasa kemarahan Anda berkurang. Mengapa ? Karena tertawa dan afek positif yang dibawanya tidak sesuai dengan perasaan marah dan tindakan agresi. Hal ini merupakan dasar dari pendekatan lain untuk mengurangi agresi, yang dikenal sebagai teknik respons yang tidak tepat (incompatible response techniques) (misalnya. Baron, 1993b). Teknik menyatakan bahwa agresi akan berkurang jika individu dipaparkan pada kejadian atau stimulus yang menyebabkan mereka mengalami keadaan afeksi yang tidak tepat dengan kemarahan atau agresi.

CONTOH PERILAKU AGRESI

Kondisi ruangan kelas yang memiliki kapasitas kecil biasanya hanya terdiri dari satu kelas dengan jumlah mahasiswa rata-rata 40 orang. Hal ini terjadi supaya kegiatan belajar dan mengajar di dalam ruangan tersebut menjadi lebih efektif. Namun kadang-kadang dalam situasi tertentu ruang kelas yang biasa digunakan untuk satu kelas bertambah jumlahnya menjadi dua kelas sehingga kondisi tersebut mempengaruhi perilaku baik dosen maupun mahasiswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Stokol dalam teori kendala Perilaku ( Behavioral Constrain Theory ) yaitu kenyataan atau perasaan serta kesan yang terbatas dari manusia oleh lingkungannya, seperti misalnya ruangan dengan kapasitas kecil dengan jumlah mahasiswa yang banyak merasa terganggu dengan adanya suara-suara yang berasal dari internal maupun eksternal kelas, sehingga membuat mahasiswa dan dosen sulit untuk berkonsentrasi pada kegiatan tersebut Jumlah mahasiswa yang tidak sesuai dengan kapasitas ruangan tersebut juga dapat menimbulkan kepadatan.

Kepadatan yang terjadi dalam ruang kelas tersebut memiliki dampak yang cukup berpengaruh. Jika kepadatan menurun, kondisi fisik maupun perilaku pada manusia dapat dikatakan normal. Sedangkan jika kepadatan meningkat, menimbulkan penurunan kondisi fisik, misalnya lelah, serta terjadinya penyimpangan perilaku, misalnya mahasiswa yang menganggu mahasiswa lainnya yang sedang memperhatikan dosen.

Akibat dari kepadatan yang terjadi didalam ruang tersebut yaitu dari segi sosial, timbulnya kenakalan pada mahasiswa. Sedangkan dari segi psikologis mahasiswa maupun dosen menjadi stress, berubahnya suasana hati, menurunnya kepedulian pada orang sekitar,menurunnya kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugas, serta meningkatnya emosi yang dapat mengakibatkan tindak agresi.

Seperti yang telah dikemukakan oleh Heimstra dan Mc. Farling, yaitu :

  • Akibat fisik, peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan lain-lain.
  • Akibat sosial, meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja.
  • Akibat psikis,
    • timbulnya stress & perubahan suasana hati,
    • menurunnya perilaku menolong,
    • kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosial,
    • menurunkan kemampuan individu dalam mengerjakan tugas-tugasnya,
    • menumbuhkan frustasi, kemarahan dan dapat menyebabkan tindak agresi.

Kesesakan yang terjadi dalam ruang kelas tersebut menimbulkan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang dan lebih bersifat psikis. Rasa sesak datang karena jumlah mahasiswa yang terlalu banyak. Sesuai dengan salah satu jenis kesesakan yang dikemukakan oleh Stokols yaitu Kesesakan Sosial ( Social Crowding ), perasaan sesak yang mula-mula dating dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak.

Mahasiswa maupun dosen dalam ruang tersebut banyak menerima stimulus yang mempengaruhi proses kognitifnya. Misalnya pada saat temperatur meningkat atau panas, mahasiswa maupun dosen berusaha membuat temperatur dalam ruangan menurun atau lebih sejuk namun ia tidak dapat melakukannya. Hal ini sesuai dengan teori Beban stimulus yaitu kesesakan terjadi bila stimulus yang diterima individu terlalu banyak ( melebihi kapasitas kognitif ) sehingga timbul kegagalan dalam memproses stimulus atau info dari lingkungannya. Seperti yang dikemukakan oleh Cohen yaitu manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam memproses informasi. Ketika individu melebihi kapasitas, orang cenderung mengabaikan beberapa masukan dan mencurahkan pada hal-hal yang lain.

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

May 2010
M T W T F S S
« Apr    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: