TEORI HUMANISTIK CARL ROGERS

TEORI HUMANISTIK CARL ROGERS

  1. I. SEJARAH

Sepanjang sejarah keinginan manusia untuk mengetahui sebab-sebab tingkah lakunya dan semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan. Pengertian umum (popular) mengenai inner entity ini barangkali ialah jiwa (soul). Menurut teori  “Jiwa“ gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan  (manifestasi) substansi khusus yang secara khas berbeda dari substansi kebendaan. Dalam pikiran keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.

Dengan berkembangnya psikologi yang positifitas pengertian tentang jiwa atau aspek-aspek kejiwaan yang lain seperti mind, ego, will, self itu cenderung untuk ditolak, terlebih di Amerika Serikat. Tetapi akhir-akhir ini diantara ahli-ahli di Amerika Serikat terdapat perhatian terhadap pengertian self itu. W.James dalam bukunya : Principles of Psychology (1890, chapter X ).

  1. II. CARL ROGERS : TEORI HUMANISTIK

Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park, Illinois, pada 8 Januari 1902. Pada umur 12 tahun keluarganya mengusahakan pertanian dan Rogers menjadi tertarik kepada pertanian secara ilmiah. Pertanian ini membawanya ke perguruan tinggi, dan pada tahun-tahun pertama Rogers sangat gemar akan ilmu alam dan ilmu hayat. Setelah menyelesaikan pelajaran di University of Wisconsin pada 1924 Rogers masuk Union Theological College of Columbia, disana Rogers mendapat pandangan yang liberal dan filsafat mengenai agama. Kemudian pindah ke Teachers College of Columbia, disana Rogers terpengaruh oleh filsafat John Dewey serta mengenal psikologi klinis dengan bimbingan L. Hollingworth. Rogers mendapat gelar M.A. pada 1928 dan doctor pada 1931 di Columbia. Pengalaman praktisnya yang pertama-tama diperolehnya di Institute for Child Guidance. Lembaga tersebut orientasinya Freudian. Rogers menemukan bahwa pemikiran Freudian yang spekulatif itu tidak cocok dengan pendidikan yang diterimanya yang mementingkan statistik dan pemikiran menurut aliran Thorndike.

Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Selama masa ini Rogers dipengaruhi oleh Otto Rank, seorang psychoanalyst yang memisahkan diri dari Freudian yang ortodok.

Pada tahun 1940 Rogers menerima tawaran untuk menjadi guru besar psikologi di Ohio State University. Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini dirasa oleh Rogers sendiri sangat tajam. Karena rangsangannya Rogers merasa terpaksa harus membuat pandangannya dalam psikoterapi itu menjadi jelas. Dan ini dikerjakannya pada 1942 dalam buku Counseling and Psychotheraphy. Pada tahun 1945 Rogers menjadi mahaguru psikologi di Universitas of Chicago, yang dijabatnya hingga kini. Tahun 1946-1957 menjadi presiden the American Psychological Association. Dan meninggal dunia tanggal 4 Februari 1987 karena serangan jantung.

II.1. Aktualisasi Diri

Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide-ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman-pengalaman terapeutiknya.

Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah–masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-kanak seperti yang diajukan oleh aliran Freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.

Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.

Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda–beda tergantung pada pengalaman–pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.

II.2. Perkembangan Kepribadian

Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat“. Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.

Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:

  1. 1. Incongruence

Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.

  1. 2. Congruence

Congruence berarti situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya incongruence ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan congruence-nya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.

Dampak dari incongruence adalah Rogers berfikir bahwa manusia akan merasa gelisah ketika konsep diri mereka terancam. Untuk melindungi diri mereka dari kegelisahan tersebut, manusia akan mengubah perbuatannya sehingga mereka mampu berpegang pada konsep diri mereka. Manusia dengan tingkat incongruence yang lebih tinggi akan merasa sangat gelisah karena realitas selalu mengancam konsep diri mereka secara terus menerus.

Contoh:

Erin yakin bahwa dia merupakan orang yang sangat dermawan, sekalipun dia seringkali sangat pelit dengan uangnya dan biasanya hanya memberikan tips yang sedikit atau bahkan tidak memberikan tips sama sekali saat di restoran. Ketika teman makan malamnya memberikan komentar pada perilaku pemberian tipsnya, dia tetap bersikukuh bahwa tips yang dia berikan itu sudah layak dibandingkan pelayanan yang dia terima. Dengan memberikan atribusi perilaku pemberian tipsnya pada pelayanan yang buruk, maka dia dapat terhindar dari kecemasan serta tetap menjaga konsep dirinya yang katanya dermawan.

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).

• Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya (unconditional positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.

• Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga.

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

  1. III. POKOK-POKOK TEORI ROGERS

Konsepsi-konsepsi pokok dalam teori Rogers adalah:

  1. Organism, yaitu keseluruhan individu (the total individual)

Organisme memiliki sifat-sifat berikut:

  1. Organisme beraksi sebagai keseluruhan terhadap medan phenomenal dengan maksud memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
  2. Organisme mempunyai satu motif dasar yaitu: mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.
  3. Organisme mungkin melambangkan pengalamannya, sehingga hal itu disadari, atau mungkin menolak pelambangan itu, sehingga pengalaman-pengalaman itu tak disadari, atau mungkin juga organisme itu tak memperdulikan pengalaman-pengalamannya.
  4. 2. Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman (the totality of experience)

Medan phenomenal punya sifat disadari atau tak disadari, tergantung apakah pengalaman yang mendasari medan phenomenal itu dilambangkan atau tidak.

  1. Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”.

Self mempunyai bermacam-macam sifat:

  1. Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungan.
  2. Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara (bentuk) yang tidak wajar.
  3. Self mengejar (menginginkan) consistency (keutuhan/kesatuan, keselarasan).
  4. Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras (consistent) dengan self.
  5. Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan stuktur self diamati sebagai ancaman.
  6. Self mungkin berubah sebagai hasil dari pematangan (maturation) dan belajar.

  1. IV. DINAMIKA KEPRIBADIAN

Rogers mengemukakan lima sifat khas dari seseorang yang berfungsi penuh:

  1. Keterbukaan pada pengalaman

Yang berarti bahwa seseorang tidak bersifat kaku dan defensif melainkan bersifat fleksibel, tidak hanya menerima pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan lahirnya persepsi dan ungkapan-ungkapan baru.

  1. Kehidupan eksistensial

Orang yang tidak mudah berprasangka ataupun memanipulasi pengalaman melainkan menyesuaikan diri karena kepribadiannya terus-menerus terbuka kepada pengalaman baru.

  1. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri

Yang berarti bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan yang lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual.

  1. Perasaan bebas

Semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak.

  1. Kreativitas

Seorang yang  kreatif bertindak dengan bebas dan menciptakan hidup, ide dan rencana yang konstruktif, serta dapat mewujudkan kebutuhan dan potensinya secara kreatif dan dengan cara yang memuaskan.

V. APLIKASI

Carl Roger sebenarnya tidak begitu banyak memfokuskan kepribadian. Teknik terapi lebih banyak mewarnai berbagai karya akademiknya. Mula-mula corak konseling ini disebut  non-directive therapy, kemudian digunakan Client Centered therapy dengan maksud individualitas konseling yang setaraf  dengan individualitas konselor. Menurut Rogers, dalam teknik ini ingin diciptakan suasana pembicaraan yang permisif.

Dalam dunia psikologi Rogers selalu dihubungkan dengan metode psikoterapi yang dikemukakan dan dikembangkannya. Terapi yang dikemukakannya itu dinamakan: non-directive therapy atau client centered therapy.

Non-directive therapy ini menjadi popular karena:

  1. Secara historis lebih terikat kepada psikologi daripada kedokteran
  2. Mudah dipelajari
  3. Untuk mempergunakannya dibutuhkan sedikit atau tanpa pengetahuan mengenai diagnosis dan dinamika kepribadian
  4. Lamanya perawatan lebih singkat jika dibandingkan misalnya dengan terapi secara psikoanalistis.

Dasar dari teknik ini adalah manusia mampu memulai sendiri arah perkembangannya dan menciptakan  kesehatan dan menyesuaikannya. Sebab itu, konselor harus mempergunakan teknisnya untuk memajukan tendensi perkembangan klien tidak secara langsung tetapi dengan menciptakan kondisi perkembangan yang positif dengan cara permisif. Konselor sebanyak mungkin membatasi diri dengan tidak memberikan nasihat, pedoman, kritik, penilaian, tafsiran, rencana, harapan, dan sebagainya.

Dengan cara ini, konselor dapat membantu klien untuk mengemukakan pengertiannya dan rencana hidupnya. Untuk memungkinkan pemahaman ini konselor diharapkan bersifat dan bersikap:

  1. Menerima (Acceptance)

Sikap terapis yang ditujukan agar klien dapat melihat dan mengembangkan diri apa adanya.

  1. Kehangatan (Warmth)

Ditujukan   agar  klien   merasa  aman   dan memiliki penilaian yang lebih positif tentang dirinya.

  1. Tampil apa  adanya (Genuine)

Kewajaran yang perlu ditampilkan oleh terapis agar klien memiliki sikap positif.

  1. Empati (Emphaty)

Menempatkan diri dalam kerangka acuan batiniah (internal frame  of reference),  klien   akan memberikan manfaat besar dalam memahami diri dan problematikanya.

  1. Penerimaan tanpa  syarat (Unconditional positive  regard)

Sikap penghargaan tanpa tuntutan yang ditunjukkan terapis pada klien, betapapun  negatif perilaku atau sifat klien, yang kemudian sangat bermanfaat dalam pemecahan masalah.

  1. Transparansi (Transparancy)

Penampilan  terapis  yang transparan atau tanpa topeng pada   saat  terapi   berlangsung    maupun  dalam kehidupan keseharian merupakan   hal yang penting  bagi klien untuk mempercayai dan menimbulkan rasa aman terhadap segala sesuatu yang diutarakan.

  1. Kongruensi (Congruence)

Konselor   dan  klien  berada pada hubungan yang sejajar dalam   relasi  terapeutik  yang   sehat. Terapis  bukanlah  orang  yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari kliennya.

Kondisi-kondisi yang memungkinkan klien mengubah  diri secara konstruktif mengharuskan klien dan terapis berada dalam kontak psikologis. Dengan demikian, akan dapat dilihat perubahan yang terjadi dalam proses terapi antara lain :

  1. Klien akan mengekspresikan pengalaman dan perasaannya tentang kehidupan, dan problem yang dihadapi.
  2. Klien akan berkembang menjadi orang yang dapat menilai secara tepat makna perasaannya.
  3. Klien mulai merasakan self concept antara dirinya dan pengalaman mereka.
  4. Klien sadar penuh akan perasaan yang mengganggu.
  5. Klien mampu mengenal konsep diri dengan terapi yang tidak mengancam.
  6. Ketika terapi dilanjutkan, konsep dirinya menjadi congruence.
  7. 7. Mereka mengembangkan kemampuan dengan pengalaman yang dibentuk oleh unconditional positive regard.
  8. Mereka akan mengevaluasi pengalaman-pengalamannya sehingga mampu berelasi sosial dengan baik.
  9. Mereka menjadi positif dalam menghargai diri sendiri.

Setelah terapi, klien akan mendapatkan insight secara mendalam terhadap diri dan permasalahannya.

  1. Mereka menjadi terbuka terhadap pengalaman dan perasaannya sendiri.
  2. Dalam pengalamannya sehari-hari mereka bisa mentransendensikan, jika diperlukan.
  3. Mereka menjadi kreatif. Mereka merasa dalam hidup menjadi lebih baik, juga dalam hubungan dengan orang lain.

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.

Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subjektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif.

Rogers juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.

3 comments May 29, 2010

FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN DAN ZAMAN MODERN

FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN DAN ZAMAN MODERN

I. FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN

1.1. MASA PATRISTIK Patristik adalah para pujangga gereja dan tokoh tokoh gereja yang sangat berperan sebagai peletak dasar intelektual kekristenan. Mereka mencurahkan perhatian pada pengembangan teologi, tapi tidak menghindarkan diri dari wilayah kefilsafatan. Mereka berpendapat bahwa setelah Allah memberikan wahyu kepada manusia, maka mempelajari filsafat Yunani yang non-Kristen dan non-Yahudi adalah sia-sia bahkan berbahaya yang mengancam kemurniaan iman krisriani. Bapak gereja yang terpenting pada masa itu adalah antara lain Tertullianus(160-222), Clemens dari Alexandria(150-251) dan Origenes(185-254) adalah pemikir pada masa awal pratistik. Gregorius dari Nazianza(330-390), Basilius(330-379), Gregorius dari Nyssa(335-394) adalah tokoh dari pratistik yunani. Sedangkan Agustinus adalah pemikir yang menandai masa keemasan masa pratistik latin. Agustinus adalah seorang pujangga gereja dan filsuf besar. Agustinus menerima penafsiran metaforis atau figuratif atas kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa alam semesta dicipta creatio ex nihilo dalam 6 hari, dan pada hari ketujuh Allah beristirahat, sesudah melihat semua itu baik adanya. “Allah tidak ingin mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak relevan bagi keselamatan mereka”. Penciptaan bukanlah suatu peristiwa dalam waktu, namun waktu diciptakan bersama dengan dunia. Penciptaan adalah tindakan tanpa-dimensi-waktu yang melaluinya waktu menjadi ada, dan tindakan kontinu yang melaluinya Allah memelihara dunia. Istilah ex nihilo tidak berarti bahwa tiada itu merupakan semacam materi, seperti patung dibuat dari perunggu, namun hanya berarti “tidak terjadi dari sesuatu yang sudah ada”. Hakikat alam ciptaan ialah menerima seluruh Adanya dari yang lain, yaitu Sang Khalik. Alam ciptaan adalah ketergantungan dunia kepada Tuhan.

MASA SKOLATIK

Sebutan skolastik mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan yang di usahakan oleh sekolah-sekolah, dan ilmu tersebut terikat pada tuntutan pengajaran di sekolah-sekolah itu. Sifat filsafat skolastik adalah pengetahuan yang digali dari buku-buku diberi tekanan berat. Jagad raya memang di pelajari, akan tetapi bukan dengan penelitian-nya, melainkan dengan menanyakan kepada pendapat para filsuf yunani tentang jagad raya itu. Ada yang mengatakan juga bahwa skolastik itu filsafat yang berdasarkan atas agama atau kepercayaan. Masa skolastik terbagi 2 tahapan (1) masa skolastik timur, yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M, dan (2) masa skolastik barat, abad 12 s/d 15 M, yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol). Secara sederhana, dalam masa Patristik, “filsafat teologi”, dengan tanda dapat dibaca sebagai “identik dengan”, “sama sebangun dengan”, “praktis tidak berbeda dengan”. Sementara dalam periode skolastik timur, terdapat berbagai interpretasi atas simbul dalam rumusan “filsafat teologi”, dalam periode skolastik barat tidak ada keraguan tentang makna simbul dalam rumusan “filsafat teologi”. Pada akhir abad ke-9 muncul nama-nama yang mempengaruhi teologi dan filsafat seperti Johanes Scotus Eriugena (810-877), Anselmus dari Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus (1079-1142), Ibn Sina (980-1037) orang Arab dengan nama latin Avicenna, Ibn Rushd (1126-1198) juga orang Arab dengan nama latin Averroes,Moses Maimodes (1135-1204) orang Yahudi, Bonaventura (1221-1274), Albertus Agung (1205-1280) dan yang paling terkenal ialah Thomas Aquinas (1225-1274). Thomas Aquinas sangat terpengaruh oleh filsafat Aristoteles. Orang Katolik terima Thomas Aquinas sebagai Bapak gereja. Orang protestan banyak menolak argumen-argumen Thomas yang terlalu terpengaruh oleh Aristoteles sehingga kadang-kadang menyimpang dari exegese yang sehat dari Alkitab.

II. FILSAFAT BARAT ZAMAN MODERN

2.1. RENAISSANCE

Filsafat modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance yang berarti kelahiran kembali. Tujuan utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan filsafat Yunani dengan ajaran agama Keristen. Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, dab Galileo Galilei adalah contoh ilmuwan yang membawa wawasan baru dengan penemuan-penemuan penting. Dibindang filsafat, peletak dasar filsafat zaman renaissance adalah Francis Bacon(1561-1623), seorang filsuf dari inggris.

2.2. FILSAFAT ABAD XVII

2.2.1. Rasionalisme

Rasionalisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan yang satu-satunya benar adalah rasio. Rene Decrates, ucapannya yang terkenal adalah Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada). Ungkapan ini memiliki makna dalam dari sekedar pengertian hafiah. Itulah sebabnya Cogito Ergo Sum harus diartikan sebagai “saya yang sedang sangsi, ada”. Berpikir adalah menyadari. Menurut Decrates, dalam diri manusia terdapat tiga ide sejak lahir, pikiran, Allah, keluasan, dan itulah yang merupakan kebenaran. Satu-satunya alasan untuk menerima dunia materi adalah Allah akan menipuku jika Ia idea keluasan padahal tidak ada satupun yang mempunyai luas. Tapi menurut pengamatan, di luarku ada dunia materi. Jadi, Allah itu ada. Konsep Rene Descartes menyatakan kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan

2.2.2. Empirisme Empirisme adalah aliran yang mengajarkan pengalaman adalah sumber pengetahuan yang benar. Tokoh terpenting adalah Thomas Hobbes dan John Locke.

2.3. FILSAFAT ABAD XVIII

Aufklaerung zaman perkembangan pesat ilmu pengetahuan. Agama Kristen, sebelum periode ini memainkan peranan sangat menentukan, akal budi tidak diingkari, tetapi diletakan pada fungsinya sebagai pendukung iman dan wahyu. Oleh sebab itu, pada masa pencerahan orang tidak mau tunduk lagi pada otoritas agama. Tokoh terpenting pada masa ini adalah George Berkeley dan David Hume (inggris). Voltaire dan Jean Jacques Rousseau (prancis), dan Immanuel Kant (Jerman).

2.4. FILSAFAT ABAD XIX

Idealisme Jerman adalah aliran yang berpendapat bahwa tidak ada realitas obyektif dari dirinya sendiri. Menurut idealisme rasio atau roh mengendalikan realitas seluruhnya. Tokoh yang terpenting adalah J.G. Fichte(1762-1814), F.W.J.Schelling(1775-1854) dan G.W.F. Hegel(1770-1831). Positivisme berpandangan bahwa manusia tidak pernah mengetahui lebih dari fakta atau apa yang nampak. Menurutnya tugas ilmu pengetahuan dan filsafat adalah penyelidikan fakta, bukan menyelidiki sebab terdalm realitas.

2.5. EKSISTENSIALISME

Aliran filsafat yang memandang segala gejala yang berpangkat pada eksistensi. Eksistensi adalah cara berada di dunia. Eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi, sebaliknya pada benda lain esensi mendahului eksistensi. Menurut Jean_paul Saster, manusia tidak mempunyai kewajiban tehdap yang lain, kecuali dirinya sendiri. Seandainya Allah ada, manusian kehilangan martabat manusianya. Maka mustahil bahwa Allah dan manusia hidup berdampingan. Manusia merupakan alat ditangan Allah, bukan manusia bebas. Eksistensialisme sama sekali bukan ateisme yang menolak adanya Allah. Seandainya Allah ada, itu sama sekali tidak akan mengubah apa-apa.

2.6. POSTMODERNISME

Modernisme mempunyai gambaran dunia sendiri yang ternyata melahirkan berbagai dampak buruk, yakni 1. obyektifikasi alam secara berlebihan dan pengrusakan alam yang semena-mena yang mengakibatkan krisis ekologi. 2. manusia cenderungmenjadi obyek karena pandangan modern yang obyektivitas dan positivitas. 3. ilmu-ilmu positif empiris menjadi standar kebenaran tertinggi. 4. materialisme. 5. militerisme. 6. kebangkitan kembali tribalisme. Ciri-ciri terpenting postmodernisme adalah relativisme dan mengakui pluralitas. Pada modernisme, pengetahuan merupakan suatu kesatuan yang didasarkan pada cerita-cerita besar yang menjadi ide penuntun sampai kepenelitian yang mendetail.

Add a comment May 29, 2010

Kepribadian dan cara mengatasinya

Beberapa orang  tentu saja lebih menyukai untuk mencari bantuan dari orang lain atau lebih umum untuk bereaksi dengan cara yang adaptif ketika berada di bawah stres. Lain tampaknya bereaksi buruk ketika keadaan menjadi sulit. Seperti yang terlihat sebelumnya dalam pembahasan kita tentang ketidakberdayaan yang dipelajari, bagian dari hal ini disebabkan oleh cara orang menjelaskan penyebab kemunduran fakta; menjelaskan kemunduran dengan cara optimis lebih baik daripada menjelaskan peristiwa dalam cara yang pesimis. Peneliti lain telah melihat ini dari sudut pandang perbedaan individu, aspek-aspek orang alities yang membuat mereka berbeda dari orang lain. Beberapa orang yang pada dasarnya optimis, umumnya mengharapkan yang terbaik pada kehidupan, sementara orang yang pesimis selalu melihat yang gelap. Dan ada bukti bahwa orang-orang optimis bereaksi lebih baik terhadap stres dan biasanya sehat daripada orang yang pesimis (Carver & Scheier, 2003; Segerstrom, 2005; Salovey et al., 2000).

Kabar baiknya adalah bahwa kebanyakan orang memiliki pandangan optimis terhadap kehidupan. Pada kenyataannya, kebanyakan orang tidak optimis terhadap kehidupan mereka (Armor&Taylor, 1998; Taylor&Brown. 1988,1994). Dalam sebuah studi, pada mahasiswa diperkirakan seberapa besar kemungkinan peristiwa itu terjadi kepada mereka, dibandingkan pada teman-teman mereka (Weistein, 1980). Peristiwa itu termasuk hal-hal positif, seperti menyukai sebuah pekerjaan, dan hal-hal negatif, seperti bercerai dan mengalami kanker paru-paru. Orang yang terlalu optimis: hampir semua orang menganggap bahwa peristiwa-peristiwa yang baik lebih mungkin terjadi pada mereka daripada rekan-rekan mereka dan bahwa kejadian negatif kurang mungkin terjadi pada mereka daripada rekan-rekan mereka (kita tahu bahwa orang itu salah, rata-rata karena tidak mungkin bahwa setiap orang bisa mengalami hal-hal baik dan menghindari hal-hal yang buruk dibandingkan orang lain).

Ini tidak realistis, optimisme akan menjadi masalah jika hal itu menyebabkan orang-orang untuk membuat kesalahan serius tentang prospek mereka dalam kehidupan. Jelas, itu tidak akan menjadi ide yang baik untuk meyakinkan diri kita bahwa kita tidak akan pernah mendapat kanker paru-paru dan oleh karena itu kita bebas merokok sebanyak yang kita inginkan. Kebanyakan orang tampaknya memiliki keseimbangan yang sehat dan optimis. Kita berhasil meletakkan positif pada banyak aspek kehidupan kita, yang mengarah ke peningkatan kontrol perasaan dan efektivitas diri. pada saat yang sama, kebanyakan orang dapat mempertahankan optimis, dicek ketika mereka menghadapi ancaman dan mengambil langkah-langkah untuk menghadapi ancaman tersebut (Armor &Taylor, 1998). Mengingat pertempuran Lance Armstrong’s dengan kanker. Di satu sisi, dia cukup realistis, mencari tahu semua tentang penyakit dan perawatan terbaru dan mencari nasihat dari banyak pakar. ia bahkan belajar membaca sinar-X serta para dokter. Meskipun keparahan dari penyakit, bagaimanapun, dan kemungkinan sangat nyata bahwa hal itu mungkin akan membunuhnya, ia mampu mempertahankan rasa optimisme: “apa yang kuat, ketakutan atau harapan? … awalnya, saya sangat takut dan tanpa banyak harapan, tapi ketika saya duduk di sana dan menyerap sepenuhnya dari penyakit saya, saya menolak untuk membiarkan rasa takut benar-benar menghapuskan optimisme saya “(Armstrong, 2000, hal.99).

Variabel kepribadian lain yang telah menerima banyak perhatian adalah kepribadian tipe A versus Tipe B, yang berkaitan dengan bagaimana orang-orang biasanya menghadapi tantangan dalam kehidupan mereka (Rosenman, 1993). Tipe A seseorang biasanya kompetitif, tidak sabar, bermusuhan, agresif, dan control-oriented. Tipe B biasanya sabar, santai, dan nonkompetitif. Kita semua akrab dengan Tipe A pola ini adalah orang yang berteriak di honks dan pengemudi saat mereka tidak memperoleh kepuasannya. Orang dengan ciri kepribadian ini muncul untuk mengatasi stres secara efisien dan agresif. Keras mereka mengemudi (hard-driving), pendekatan kompetitif kehidupan terbayar dalam beberapa hal; tipe A individu cenderung untuk mendapatkan nilai bagus di perguruan tinggi dan untuk menjadi sukses dalam karier mereka (Kleiwer, Lepore, & Evans, 1990; Ovcharchym, Johnson, & Petzel, 1981 ). Keberhasilan ini, bagaimanapun datang dengan sejumlah biaya. Orang tipe A menghabiskan relatif sedikit waktu pada kegiatan nonpekerjaan dan memiliki lebih banyak kesulitan dalam menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga mereka (Burke&Greenglass, 1990; Greenglass, 1991). Lebih lanjut; berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu tipe A lebih rentan daripada orang-orang tipe B untuk mengembangkan penyakit jantung koroner (Matthews, 1988).

Penelitian selanjutnya telah mencoba untuk mempersempit mengenai kepribadian tipe A  yang sangat berhubungan dengan penyakit jantung. Kemungkinan besar penyebabnya adalah permusuhan (Farber&Burge-Callaway, 1998; Krantz&McCeney 2002; Smith, 2003; Williams, 2002). Daya saing dan kehidupan cepat mungkin tidak terlalu buruk oleh diri mereka sendiri, tetapi untuk orang yang kronis bermusuhan, mereka meningkatkan risiko penyakit koroner.

Sejumlah faktor yang mempengaruhi apakah anda tipe A atau tipe B. Anda lebih mungkin untuk tipe A jika Anda laki-laki, orang tua Anda tipe A, dan tinggal di perkotaan (Rosenman, 1993). Budaya dimana Anda mungkin juga memainkan peran. Dalam budaya barat penyakit koroner lebih tinggi daripada budaya asia, seperti Jepang. Setiap budaya menekankan pada kemandirian dan saling ketergantungan versus individualisme dan kolektivisme mungkin memainkan peran (Triandis, 1995). Penekanan ini mungkin berkaitan dengan penyakit jantung dalam dua cara: pertama, dalam budaya barat, dimana individualisme dan daya saing sangat berharga, kepribadian tipe A lebih mendorong. Kedua, orang-orang yang hidup dalam budaya yang menekankan kolektivisme mungkin memiliki lebih banyak dukungan dari orang lain ketika mereka mengalami stres, dan sebagaimana telah kita lihat, dukungan sosial adalah cara yang berharga untuk membuat stres lebih mudah ditangani (Triandis, 1995)

Pertanyaan seperti “apa yang membuat seseorang lebih tahan terhadap masalah kesehatan daripada orang lain?” biasanya dieksplorasi oleh psikolog kepribadian. Psikolog sosial mengambil taktik yang berbeda, alih-alih bertanya: dapatkah kita mengidentifikasi cara-cara untuk mengatasi stres yang dapat digunakan oleh setiap orang?

Add a comment May 17, 2010

‘120’ Kemampuan Manusia Menurut Guilford

Guilford (1961,1967) orang yang dewasa ini sangat terkenal dalam lapangan psikometri, sependapat dengan Thurstone, yaitu bahwa yang pokok itu dalah faktor c; bahkan pada hakikatnya hanya inilah faktor-faktor intelegensi itu. Menurut dia faktor c itu banyaknya tidak hanya 7, melainkan 120.

Jumlah 120 macam itu disebabkan oleh karena variasi dalam intelegensi itu dapat dilihat dari 3 dasar:

  1. Proses Psikologi yang terlibat
  2. Isi atau materi yang diproses
  3. Bentuk informasi yang dihasilkan

Secara garis besar, pendapat Guilford itu dapat diiktisarkan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan atas prosesnya, 5 macam:
    1. Cognition
    2. Memory
    3. Divergent production
    4. Convergent production
    5. Evaluation
    6. Berdasarkan atas isi yang diproses, 4 macam:
      1. Figural
      2. Symbolic
      3. Semantic
      4. Behavioral
      5. Berdasarkan atas bentuk informasi yang dihasilkan, 6 macam:
        1. Unit
        2. Classes
        3. Relations
        4. Systems
        5. Transformations
        6. Implications

Dengan demikian dalam keseluruhan ada 5 x 4 x 6 = 120 macam hal (faktor intelegensi).

Add a comment May 17, 2010

Bunuh Diri

DEFINISI GANGGUAN BUNUH DIRI

Perilaku bunuh diri adalah sebuah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai diri sendiri, meliputi baik upaya bunuh diri dan benar-benar bunuh diri. Ide, isyarat, dan usaha bunuh diri sering menyertai gangguan depresif, dan fenomena bunuh diri tersebut, terutama para remaja, adalah merupakan masalah kesehatan mental masyarakat yang semakin banyak.

Bunuh diri langka pada anak sebelum pubertas dan sebagian besar masalah pada remaja, terutama diantara usia 15 dan 19, dan masa dewasa. Meskipun begitu, anak bunuh diri telah terjadi dan seharusnya tidak diabaikan pada sebelum remaja. Ide bunuh diri terjadi dengan frekuensi terbesar jika gangguan depresif adalah parah.

Setelah kecelakaan, bunuh diri adalah penyebab kematian pada remaja, menghasilkan 2.000 kematian per tahun di Amerika Serikat. Hal ini juga mungkin bahwa jumlah kematian menyebabkan kecelakaan, seperti yang berasal dari kendaraan bermotor dan senjata api, adalah bunuh diri yang aktual.

Tetapi bunuh diri yang berhasil adalah jarang sebelum usia 12 tahun. Seorang anak kecil memiliki sedikit kemampuan untuk merancang dan melakukan rencana bunuh diri yang realistik. Kebanyakan orang yang lebih muda berupaya untuk bunuh diri dibandingkan benar-benar sukses.

Sebuah survei dilakukan oleh yayasan pusat pengendalian dan pencegahan penyakit bahwa 28% siswa sekolah menengah atas telah berfikir untuk bunuh diri dan 8.3% telah berusaha untuk bunuh diri. Bunuh diri yang berhasil terjadi kira-kira lima kali lebih sering pada remaja laki-laki dibandingkan perempuan, walaupun angka untuk usaha bunuh diri adalah sekurangnya tiga kali lebih besar pada remaja perempuan dibandingkan laki-laki.

Ide bunuh diri bukanlah fenomena yang statik; ia dapat hilang dan timbul dengan berjalannya waktu. Keputusan untuk melakukan perilaku bunuh diri mungkin impulsif, tanpa pikir panjang atau mungkin merupakan puncak dari perenungan yang lama.

Cara usaha bunuh diri adalah mempengaruhi morbiditas dan angka keberhasilan bunuh diri adalah tidak tergantung dari keparahan maksud unutk mati saat perilaku bunuh diri. Jadi metode bunuh diri yang paling sering berhasil pada anak-anak dan remaja adalah melalui penggunaan senjata api. Cara bunuh diri kedua yang tersering pada anak laki-laki, terjadi kira-kira seperempat dari semua kasus adalah dengan menggantung diri. Pada anak perempuan kira-kira seperempatnya melakukan bunuh diri dengan menelan racun. Keracunan karbon monoksida dalah cara berikutnya yang tersering dilakukan, baik anak laki-laki maupun anak perempuan.

EPIDEMIOLOGI GANGGUAN BUNUH DIRI

Pada tahun-tahun terakhir angka bunuh diri pada remaja di Amerika Serikat telah meningkat secara dramatis, walaupun pada beberapa negara lain tidak demikian. Telah terdapat peningkatan yang tetap pada angka bunuh diri bagi orang Amerika yang berusia 15 sampai 19 tahun. Angka tersebut sekarang adalah 13, 6 per 100.000 untuk anak laki-laki dan 3,6 per 100.000 untuk perempuan. Lebih dari 5.000 orang remaja melakukan bunuh diri setiap tahunnya di Amerika Serikat, yaitu satu tiap 90 menit. Peningkatan angka bunuh diri dianggap mencerminkan perubahan dalam lingkungan sosial, perubahan sikap terhadap bunuh diri, dan meningkatkan ketersediaan alat untuk bunuh diri; sebagai contohnya, di Amerika Serikat 66% bunuh diri remaja pada anak laki-laki adalah dilakukan dengan senjata api, dibandingkan dengan 6% di Inggris.

Bunuh diri adalah penyebab kematian nomor 3 yang terbanyak di Amerika Serikat pada orang yang berusia 15 sampai 24 tahun dan nomor 2 di antara laki-laki kulit putih pada kelompok usia tersebut

Angka bunuh diri adalah tergantung pada usia, dan angka meningkat secara bermakna setelah pubertas. Bilaman kurang dari 1% bunuh diri yang berhasil per 100.000 untuk usia di bawah 14 tahun, kira-kira 10 per 100.000 bunuh diri yang berhasil terjadi pada remaja yang berusia antara 15 dan 19 tahun. Di bawah usia 14 tahun, usaha bunuh diri sekurangnya adalah 50 kali lebih sering dibandingkan keberhasialn bunuh diri. Tetapi, antara usia 15 dan 19 tahun, angka usaha bunuh diri adalah kira-kira 15 kali lebih besar dibandingkan keberhasialn bunuh diri. Jumlah bunuh diri remaja pada beberapa dekade yang lalu telah meningkat sebesar 3 sampai 4 kali.

ETIOLOGI GANGGUAN BUNUH DIRI

Ciri universal pada remaja yang bunuh diri adalah ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan pemecahan terhadap suatu masalah dan tidak adanya strategi mengatasi stressor yang segera. Jadi, sempitnya pilihan yang tersedia untuk menghadapi percekcokan keluarga yang rekuren, penolakan, atau kegagalan aalah berperan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan bunuh diri.

Faktor genetik. Bukti-bukti sumbangan genetik pada perilaku bunuh diri adalah didasarkan pada penelitian resiko bunuh diri keluarga dan tingginya angka kesesuaian untuk bunuh diri di antara kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Walaupun resiko untuk bunuh diri adalah tinggi pada orang dengan gangguan mental (termasuk skizofrenia), gangguan depresif berat, dan gangguan bipolar I (resiko untuk bunuh diri adalah jauh lebih tinggi pada sanak saudara orang dengan gangguan mood dibandingkan dengan sanak saudara orang dengan skozofrenia.

Faktor biologis lain. Temuan neurokimiawi menunjukan adanya tumpang tindih antara orang dengan perilaku agresif dan impulsif dan mereka yang melakukan bunuh diri. Kadar serotonin (5-HT) dan metabolit utamanya, 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA) yang rendah, adalah telah ditemukan dalam otak postmortem orang yang berhasil melakukan bunuh diri. Kadar 5-HIAA yang rendah telah ditemukan dalam cairan serebrospinalis orang terdepresi yang berusaha bunuh diri dengan cara kekerasan. Alkohol dan zat psikoaktif lain dapat menurunkan kadar 5-HIAA, kemungkinan meningkatkan kerentanan terhadap perilaku bunuh diri pada orang yang sebelumnya telah terdisposisi. Mekanisme yang menghubungkan penurunan fungsi serotonergik dan perilaku agresif atau bunuh diri adalah tidak diketahui, dan serotonin yang rendah mungkin hanya merupakan pertanda, bukan suatu penyebab, dari kecenderungan agresi dan bunuh diri.

Tes supresi deksametason menghasilkan temuan yang kurang meyakinkan pada anak-anak dan remaja yang terdepresi dibandingkan pada orang dewasa. Tetapi beberapa penelitian pada anak-anak dan remaja menyatakan adanya suatu hubungan nonsupresi pada tes supresi deksametason dan usaha bunuh diri yang potensial mematikan. Pada anak-anak dan remaja hubungan antara bunuh diri dan nonsupresi adalah tidak selalu dalam konteks gangguan mood berat.

Faktor sosial. Anak-anak dan remaja adalah rentan terhadap lingkungan yang sangat kacau menyiksa, dan menelantarkan. Berbagai macam gejala psikopatologis dapat terjadi sekunder karena pemaparan kepada rumah yang penuh kekerasan dan penyiksaan. Perilaku agresif, menghancurkan diri sendiri, dan bunuh diri tampaknya terjadi dengan frekuensi terbesar pada orang yang mengalami kehidupan keluarga yang penuh dengan stres secara kronis.

FAKTOR RESIKO GANGGUAN BUNUH DIRI

Berbagai faktor umumnya saling berhubungan sebelum bunuh diri dipikirkan menjadi perilaku bunuh diri. Sangat sering, terdapat masalah kesehatan mental yang mendasari dan memicu peristiwa yang sangat menekan.

Contoh peristiwa yang sangat menekan termasuk kematian orang yang dicintai, kehilangan teman perempuan atau teman laki-laki, pindah dari lingkungan sekitarnya (sekolah, tetangga, teman), penghinaan oleh keluarga atau teman, gagal di sekolah, dan bermasalah dengan hukum. Peristiwa yang sangat menekan seperti berikut adalah cukup umum diantara anak-anak, meskipun begitu, dan jarang menyebabkan perilaku bunuh diri jika tidak terdapat masalah-masalah lain yang mendasari. Kedua masalah-masalah mendasar yang paling umum adalah depresi dan alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Remaja dengan depresi mengalami perasaan putus asa dan tidak berdaya yang membatasi kemampuan mereka untuk mempertimbangkan solusi lain untuk masalah-masalah dengan segera. Penggunaan alkohol dan obat-obatan merendahkan penghambat melawan tindakan berbahaya dan berhubungan dengan antisipasi pada konsekwensi-konsekwensi. Akhirnya, kendali impuls yang buruk adala sebuah faktor umum dalam perilaku bunuh diri.

Para remaja berupaya bunuh diri adalah umumnya marah dengan anggota keluarga atau teman, tidak mampu untuk menyesuaikan kemarahannya, dan berbalik marah melawan diri sendiri.

Kadangkala perilaku bunuh diri dihasilkan ketika seorang anak mencontoh tindakan orang lain. Misalnya, bunuh diri yang dipublikasikan dengan baik, seperti pada selebritis, seringkali diikuti oleh bunuh diri atau upaya bunuh diri yang lain. Bunuh diri bisa mengikat dalam keluarga dengan sifat mudak terkena luka genetik sampai gangguan suasana hati.

GEJALA GANGGUAN BUNUH DIRI

Anak yang berusaha bunuh diri memerlukan evaluasi segera di bagian gawat darurat rumah sakit. Setiap jenis usaha bunuh diri harus dilakukan dengan serius, karena sepertiga dari mereka yang benar-benar bunuh diri mengalami usaha bunuh diri sebelumnya-kadangkala tampak sepele, seperti melakukan beberapa garukan dangkal pada pergelangan tangan atau menelan beberapa pil. Ketika orangtua atau pengurus anak meremehkan atau meminimalkan usaha bunuh diri yang tidak berhasil, anak bisa melihat ini sebagai sebuah tantangan, dan resiko pada bunuh diri berikutnya meningkat.


DIAGNOSA GANGGUAN BUNUH DIRI

Orangtua, dokter, guru dan teman kemungkinan pada posisi untuk mengidentifikasi siapa yang mungkin berusaha bunuh diri, terutama pada mereka yang telah melakukan perubahan baru-baru ini dalam perilaku. Anak-anak dan remaja seringkali mempercayai hanya teman sebaya mereka, yang harus diyakinkan untuk tidak menjaga rahasia yang bisa membuat kematian tragis pada anak yang bunuh diri. Anak yang terlalu cepat berpikir bunuh diri seperti ‘saya harap saya tidak pernah dilahirkan’ atau ‘saya ingin tidur dan tidak pernah terbangun’ beresiko, tetapi sehingga anak dengan tanda-tanda ringan, seperti menarik diri dari masyarakat, tinggal kelas, atau terpisah dari barang milik favorite. Pemerhati kesehatan professional memiliki dua kunci peranan : mengevaluasi keselamatan anak bunuh diri dan perlu untuk di opname, dan pengobatan berdasarkan kondisi, seperti depresi atau penyalahgunaan zat-zat terlarang.

Secara langsung menanyakan anak beresiko mengenai pemikiran dan rencana mengurangi, daripada meningkatkan, resiko dimana anak tersebut akan berusaha bunuh diri karena mengidentifikasi pikiran bunuh diri bisa menyebabkan intervensi. Hot line krisis, menyediakan bantuan selama 24 jam, tersedia di banyak perkumpulan, dan menyediakan akses yang siap untuk seorang simpatik yang bisa memberikan konseling segera dan bantuan dalam memperoleh perawatan lebih lanjut. Meskipun hal ini sulit untuk dibuktikan bahwa pelayanan ini secara nyata mengurangi jumlah kematian dari bunuh diri, mereka sangat membantu dalam mengarahkan anak dan keluarga untuk sumber daya yang tepat.

PENGOBATAN DAN TERAPI GANGGUAN BUNUH DIRI

Remaja yang mencoba bunuh diri harus diperiksa sebelum diambil keputusan untuk merawat mereka di rumah sakit atau memulangkan mereka ke rumah. Mereka yang masuk ke dalam resiko tinggi harus dirawat di rumah sakit sampai sikap bunuh diri sudah tidak ada lagi. Orang dengan resiko tinggi adalah mereka yang sebelumnya pernah mencoba bunuh diri. Mereka yang berperilaku agresif atau penyalahgunaan zat, mereka yang mencoba bunuh diri dengan senjata api atau menelan zat racun, mereka dengan gangguan depresif berat yang menarik diri dari lingkungan sosial, putus asa, dan tida ada tenaga, dsb. Mereka yang memiliki ide bunuh diri harus dirawat di rumah sakit jika klinisi memiliki keraguan tentang kemampuan keluarga untuk mengawasi anak atau bekerja sama dengan terapi dalam lingkungan rawat jalan. Dalam situasi tersebut, jasa perlindungan anak harus dilibatkan sebelum anak dapat dipulangkan.

Jika remaja dengan ide bunuh diri melaporkan bahwa mereka tidak lagi ingin bunuh diri, pemulangan dapat dipertimbangkan hanya jika rencana pemulangan telah siap. Rencana harus termasuk psikoterapi, farmakoterapi, dan terapi keluarga sesuai yang diindikasikan. Jika opname tidak diperlukan, keluarga dari anak-anak pulang kerumah harus memastikan bahwa senjata api dibuang dari rumah sama sekali dan bahwa onat-obatan dan benda tajam dibuang atau benar-benar dikunci. Selain itu, perjanjian follow-up rawat jalan harus di lakukan sebelum pemulangan, dan nomor telepon yang siap dihubungi 24 jam harus diberikan bagi remaja dan keluarga kalau sewaktu-waktu ide bunuh diri tampak kembali sebelum terapi dimulai.

Add a comment May 17, 2010

Tips Mengobati Jerawat dengan Cara Alami

Jerawat merupakan jenis penyakit kulit yang biasa ditemukan di semua kalangan, terutama remaja. Penyebabnya antara lain faktor keturunan, ketidakseimbangan hormon, bakteri, tekanan psikologis dan cuaca. Umumnya jerawat muncul pada masa remaja, tapi tidak jarang orang dewasa yang mengalaminya. Bagi kaum perempuan jerawat bisa muncul apabila datang haid atau hamil dan bisa muncul di bagian tubuh mana saja, tidak hanya di wajah. Selain itu alergi terhadap obat tertentu juga dapat merangsang tumbuhnya jerawat.

Munculnya jerawat juga sering dikaitkan dengan konsumsi makanan tertentu seperti kacang-kacangan, cokelat, atau goreng-gorengan. Meski demikian belum ada hasil penelitian yang menguatkan dugaan ini.

Semua tipe jerawat — baik komedo, jerawat biasa, maupun jerawat batu— memang sangat mengganggu. Namun cara-cara berikut ini dapat dilakukan sendiri guna mencegah maupun mengobati jerawat. Bahan-bahan berasal dari sekitar kita dengan cara yang tidak sulit dan menyita waktu.

Cuci Muka
Kulit wajah yang berminyak atau wajah yang mempunyai kecenderungan muncul jerawat harus dibersihkan dua kali sehari. Sangat dianjurkan mencuci muka dengan pembersih yang PH-nya sedikit asam untuk menjaga kebersihan wajah yang berjerawat.
Air seduhan 7-10 lembar daun sirih (Piper betle) mujarab untuk mematikan bakteri yang menyebabkan jerawat sehingga dapat digunakan untuk mencuci muka sebanyak dua atau tiga kali sehari.

Menurut pengalaman beberapa orang, membasuh wajah dengan air es juga dapat mengurangi timbulnya jerawat. Hal ini dipercaya dapat mengurangi minyak pada wajah.
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), yang ditumbuk halus dan dicampur dengan sedikit air garam juga dapat digunakan untuk membersihkan wajah berjerawat. Menurut beberapa ahli kulit, belimbing wuluh bersifat sejuk, dan berkhasiat sebagai antiradang dan astrigen (memperkecil pori-pori kulit wajah).

Wajah berjerawat juga lebih segar jika diuapi dengan seduhan satu bungkus daun teh. Sebungkus kecil daun teh yang diseduh dengan air panas baru mendidih, lalu uapkan pada wajah yang berjerawat.

Masker
Sementara buah mengkudu dapat dimanfaatkan sebagai masker pemulus wajah. Masker mengkudu tidak hanya mengatasi jerawat, panu, kulit yang keriput dan kering pun hilang lenyap, otot-otot muka menjadi lebih relaks.

Jeruk nipis (Citrus aurantium) yang dioleskan pada wajah malam hari sebelum tidur dan baru dibersihkan pada pagi harinya, dapat digunakan untuk menghilangkan jerawat. Hal yang sama juga dapat dilakukan dengan buah tomat (Solanum lycopersicum).
Masker lain yang dapat digunakan mengatasi jerawat adalah masker temulawak (Curcuma xanthorizza). Kompres wajah dengan air es setelah menggunakan masker akan membantu meningkatkan hasilnya.

Daun dewa dan mahkota dewa juga berkhasiat sebagai obat jerawat. Tanaman lain yang dapat dimanfaatkan sebagai masker antijerawat adalah tumbukan pucuk daun jambu batu (Psidium guajava). Lidah buaya (Aloe vera) yang terkenal dapat menghaluskan kulit juga dapat digunakan sebagai masker penghilang jerawat.
Kentang (Potato solanum tuberosum) juga dapat dikompreskan pada jerawat. Potongan kentang yang diiris tipis-tipis ditempelkan pada kulit yang meradang karena jerawat hingga warna kentang keabu-abuan dan kering.

Sedangkan flek-flek hitam di wajah bekas jerawat dapat dihilangkan dengan masker jagung (Zea mays) muda atau bengkoang. Parutan jagung muda atau bengkoang dioleskan ke bagian-bagian yang hitam lalu diamkan sampai mengering.
Jerawat jenis komedo dapat dihilangkan dengan masker peel off dari gelatin buatan sendiri. Bahan-bahannya: satu sendok makan bubuk gelatin yang bisa dibeli di pasar swalayan, dua sendok makan susu cair dingin, dan satu butir putih telur. Susu cair dingin dan gelatin dicampur lalu dipanaskan, jaga jangan sampai menggumpal. Setelah leleh, dinginkan sampai hangat, lalu campurkan dengan putih telur. Oleskan adonan tadi ke wajah, kecuali seputar mata dan bibir.

sumber: http://www.dechacare.com/Tips-Mengobati-Jerawat-dengan-Cara-Alami-I507.html

Add a comment May 17, 2010

Tips Belajar Efektif

1. Seorang teman dari Amerika memberi saran belajar yang dia dapat dari ayahnya. Hari pertama sekolah, ulang kembali pelajaran yang telah didapat. Setelah itu baca singkat dua halaman materi berikutnya buat cari kerangkanya saja. Begitu pelajaran tersebut diterangkan guru esoknya, Anda sudah punya gambaran atau dasarnya, tinggal menambahkan saja apa yang belum Anda tahu. Jadi begitu pulang sekolah, tinggal mengulang saja untuk mencari kesimpulan atau ringkasan.

2. Usahakan selalu konsentrasi penuh waktu mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru atau totor. Materi yang Anda dengar bakal mudah dipanggil lagi begitu Anda menghapal ulang pelajaran tersebut.

3. Beberapa teman juga merekomendasikan untuk mengetik ulang catatan pelajaran ke dalam komputer. Logikanya, dengan mengetik ulang catatan berarti sama saja dengan membaca ulang pelajaran yang baru saja didapat dari sekolah. Materi yang diulang tadi bisa tersimpan di memori otak buat jangka waktu yang lama. Lebih bagus lagi kalo membacanya kembali atau mempelajari catatan tersebut setelah diketik.

4. Cara lain adalah dengan membaca ulang catatan pelajaran kemudian buat kesimpulan dengan kalimat sendiri. Supaya dapat terpatri lama di memori, tulis kesimpulan tadi di secarik kertas kecil seukuran kartu nama. Kartu-kartu tersebut efektif untuk mengulang dan membaca singkat kala senggang.

5. Teman lainnya menyarankan untuk selalu menggunakan buku catatan yang berbeda pada setiap mata pelajaran. Cara ini dinilai lebih teratur sehingga pada waktu ingin mengulang suatu pelajaran kita tidak perlu lagi harus membuka semua buku.

6. Mengulang pelajaran tidak selamanya harus dengan membaca atau menulis. Mengajari teman lain tentang materi yang baru diulang bisa membuatmu selalu ingat akan materi tersebut. Bagusnya lagi, Anda menjadi lebih paham akan materi tersebut.

7. Belajar mendadak menjelang tes memang tidak efektif. Paling tidak sebulan sebelum ulangan adalah masa ideal buat mengulang pelajaran. Materi yang banyak bukan masalah. Caranya: selalu buat ringkasan atau kesimpulan pada setiap pelajaran, kalau perlu pakai tabel atau gambar ilustrasi supaya mudah diingat.

8. Ada beberapa teman di Australia yang menyukai waktu belajar pada siang hari. Maklum, badan masih segar setelah tidur cukup di malam hari, jadi semangat masih tinggi. Kondisi yang bagus tersebut tidak mereka sia-siakan begitu saja. Pagi mereka konsentrasi penuh pada pelajaran di kelas dan siangnya konsentrasi untuk mengulang kembali. Malam hari hanya mereka gunakan untuk mengerjakan aktivitas ringan atau pekerjaan rumah. Jadi tidak pernah ada kata begadang.

9. Kalau badan capek, bakal susah buat konsentrasinya. Beberapa teman menyarankan untuk libur dulu dari acara olah raga atau kegiatan fisik lainnya sehari menjelang ulangan umum.

10. Belajar sambil mendengarkan musik memang asyik. Pilih music yang tenang tapi menggugah. Musik klasik macam Beethoven ato Mozart bisa dicoba. Musik tipe ini cocok banget buat menemani kamu selama mengerjakan tugas yang jawabannya sudah pasti, seperti matematika, ilmu alam atau bahasa asing. Dijamin stamina belajar Anda akan selalu berisi dan penuh semangat.

sumber: http://www.alfurqon.or.id/component/content/article/64-guru/335-tips-belajar-efektif

Add a comment May 17, 2010

anak indigo

Annisa Rania Putri, yang lahir tahun 1999, aktif berbicara dalam bahasa Inggris. Padahal bahasa ini bukan bahasa sehari-hari dalam keluarga mereka. Menurut orangtuanya, kemampuan bicara dalam bahasa Inggris ini didapatnya tanpa belajar, tak lama setelah ia mulai bisa bicara. Selain itu, gadis cilik ini menguasai beberapa bahasa lain, seperti bahasa Arab dan bahasa Korea. Annisa pun kerap memberikan ceramah tentang spiritualitas di hadapan orang-orang dewasa. Belum lagi kemampuannnya merancang bangunan bak seorang arsitek berpengalaman. Sebuah rumah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur, adalah contoh karyanya. Selain itu, bukunya yang bertema spiritualitas juga sudah diterbitkan.

Gadis cilik ini adalah salah satu anak yang di-blow up media sebagai anak indigo. Begitu pula beberapa anak indigo lain beberapa kali diwawancarai media yang berupaya mengungkap keberadaan anak-anak istimewa ini.

Disinyalir keberadaan anak indigo ada sejak awal keberadaan manusia di bumi ini, namun istilah ‘indigo’ sendiri baru dipopulerkan oleh Nancy Ann Tappe, seorang konselor di Amerika Serikat pada era 80-an. Lewat bukunya ia menuturkan bahwa ia mengamati warna aura manusia untuk kemudian menghubungkannya dengan kepribadiannya. Dari pengamatan ini didapatlah sebuah warna indigo atau nila, yang merupakan campuran warna ungu dan biru. Warna ini biasanya dimiliki orang dewasa, namun ternyata dimiliki juga oleh anak-anak tertentu, hingga disebutlah mereka sebagai anak-anak indigo.

sumber: http://www.ummi-online.com/artikel-16-anak-indigo-istimewa-tapi-jangan-dianggap-aneh.html

Add a comment May 10, 2010

Kasus Anak ADHD dan pendidikan yang tak terpenuhi

Weni, masih berumur 6 tahun ketika diantarkan oleh seorang perempuan muda bernama Idar ke Panti Asuhan Puteri Aisyiah Kuantan Singingi, sebuah panti asuhan puteri milik Pimpinan Daerah Aisyiah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Ia merupakan satu dari sekian anak yang akan menjadi anak asuh baru di panti asuhan tersebut. Weni berasal dari Pantai Lubuk Ramo, sebuah daerah terpencil jauh di pedalaman Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi. Berdasarkan keterangan perempuan muda yang mengantarnya, Weni terbuang dan diterlantarkan oleh keluarga. Ibunya menikah lagi dengan laki-laki lain dan kemudian tak mempedulikan anaknya. Weni dititipkan di rumah neneknya, namun ia tak selalu tinggal bersama neneknya, tapi juga tinggal dengan keluarga lain yang bersedia “merawatnya” (berdasarkan pengakuan Weni, keluarga tersebut sering mempekerjakan dia, mencari kayu di hutan, mengerjakan pekerjaan rumah, dsb.). Ayah Weni, ketika itu tidak ada yang tahu siapa ayah kandungnya, perempuan muda yang mengantar tak mengetahui siapa ayahnya. Meski berdasarkan perkembangan terakhir, pada awal tahun 2010, pengasuh panti berhasil menemukan ayah kandungnya dan mempertemukan Weni dengan ayahnya. Itu terjadi setelah dua tahun Weni berada di Panti Asuhan Puteri Aisyiah.

Pertemuanku pertama kali dengan Weni terjadi pada bulan September 2008, di penghujung puasa menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ia tinggal dirumahku karena menolak untuk pulang merayakan Idul Fitri bersama keluarganya. Karena ia tak mungkin tinggal sendirian di panti asuhan, maka oleh orangtuaku yang pengasuh panti, ia dibawa kerumah. Bertemu Weni, seolah bertemu dengan model anak-anak bermasalah dalam contoh kasus – contoh kasus kuliah psikologi pendidikan ataupun psikologi perkembangan. Anak ini mengalami banyak sekali masalah. Ia sangat pelupa, lupa dengan nama orang yang baru dikenalkan padanya, lupa pada nama benda yang baru ia ketahui, bahkan ia lupa dengan apa yang baru saja ia katakan. Jika Weni diminta untuk melakukan sesuatu dengan kalimat perintah yang mungkin rumit baginya, ia menjadi benar-benar bingung untuk melakukannya. Dan yang paling khas, anak ini banyak sekali bicara dan tak henti-henti. Ia selalu mengajak oranglain berbicara dengan mengajukan sangat banyak pertanyaan, atau ia akan bercerita sendiri, jika oranglain bosan, ia tetap akan bicara sendiri. Selain itu, Weni selalu bergerak tak pernah diam. Ia selalu bergerak kesana-kemari, tak pernah bisa fokus dalam melakukan sesuatu. Pernah satu kali aku mengajarkan satu gerakan senam padanya, hanya sebentar, kemudian ia berpindah melakukan aktivitas lain lagi. Sulit untuk mempertahankan perhatiannya pada sesuatu. Dan ia sangat pembosan.

Awal berada di panti asuhan, semua anak usia sekolah didaftarkan untuk masuk ke sekolah-sekolah sesuai dengan jenjang mereka. Tak terkecuali dengan Weni, ia didaftarkan masuk di kelas 1 sebuah SD negeri. Namun, hanya beberapa hari Weni bersekolah, pihak sekolah menyatakan tak sanggup mendidik Weni dan mengembalikan Weni pada pengasuh panti. Menurut pihak sekolah, perilaku Weni berada diluar kemampuan mereka untuk mendidik seorang siswa. Weni duduk di kelas satu, tapi ia bisa dengan seenaknya tiba-tiba masuk ke ruang kelas lima saat pelajaran berlangsung (di kelas lima ada seorang anak panti asuhan juga dan Weni ingin bersamanya). Jika sedang berada di dalam kelas, Weni sering mengganggu kegiatan belajar-mengajar di kelas itu. Ia berjalan-jalan di kelas, mengajak teman-temannya berbicara, bahkan terus-terusan bicara dengan dirinya sendiri. Ia tak pernah sedikitpun menghiraukan atau memperhatikan gurunya, ia tak pernah fokus untuk belajar. Lebih jauh, dia memang tak bisa dan tidak tahu bagaimana caranya belajar di sekolah-sekolah. Menurut pihak sekolah, Weni bukan anak yang normal. Dan sejak itu, Weni belum masuk sekolah formal lagi hingga kini.

Ada kemungkinan Weni mengalami gangguan hiperaktivitas, atau dalam dunia psikologi dikenal dengan sebutan ADHD (Attention Deficit and Hiperactivity Disorder). ADHD merupakan suatu gangguan dimana seorang anak mengalami gangguan hiperaktivitas dan kesulitan dalam memfokuskan perhatian. Salah satu yang menyebabkan anak menjadi ADHD adalah trauma kekerasan yang terjadi di masa kecil. Weni memiliki trauma kekerasan di masa kecil. Sebelum di panti asuhan, Weni mengaku sering mendapatkan siksaan-siksaan fisik dari orang yang berada di lingkungannya. Weni memiliki luka bakar di tangan kiri, ia mengaku luka itu ia dapatkan dari seseorang yang membakar kantong keresek diatas tangannya dan lelehan panasnya diteteskan ke tangannya. Namun, ADHD ini hanyalah sebuah dugaan. Untuk mengetahui apakah ia benar-benar mengalami gangguan ini atau tidak, perlu dilakukan assessment lebih jauh dan diagnosis dari seorang psikolog professional. Apapun masalah yang dialami oleh Weni, secara umum, aku berani berkesimpulan bahwa ia termasuk anak yang berkebutuhan khusus.

Tentu bukan masalah benar ketika Weni berada di kota besar, misalnya di Yogyakarta. Ada banyak psikolog yang bisa membantu ia dalam mengatasi masalah yang dialaminya. Ada sekolah-sekolah inklusi yang pasti bersedia menerima dan mau mendidiknya. Namun, Weni adalah anak yang ditakdirkan lahir di sebuah desa yang jauh terpencil di pedalaman Sumatera. Lalu nasib yang sedikit lebih baik membawanya ke Panti Asuhan Puteri Aisyiah di Teluk Kuantan, sebuah kota kecil yang masih serba terbatas secara fasilitas. Tidak ada psikolog yang bisa membantu. Tidak ada sekolah inklusi yang pasti mau menerima, yang ada hanyalah sekolah negeri yang tak sanggup menghadapi anak “istimewa” seperti dirinya, lebih “istimewa” dibanding anak-anak lain pada umumnya.

Aku percaya, semua anak berhak untuk mendapatkan pendidikan, seperti apapun keadaannya. Namun, pendidikan nasional kita tak mendukung untuk hal itu terjadi. Selama ini, sistem pendidikan Indonesia, selain hanya menekankan pada aspek kognitif, juga hanya bisa mengakomodir anak-anak yang katakanlah normal dan tak memiliki kesulitan-kesulitan tertentu. Memang saat ini sedang berkembang model sekolah inklusi, dimana anak-anak yang normal dan berkebutuhan khusus (seperti yang cacat fisik, autis, ADHD, gifted, dll.) berada dalam satu kelas yang sama. Para pendidik di sekolah inklusi pun memiliki ilmu tentang bagaimana mengajari masing-masing anak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Namun, model sekolah ini jumlahnya terbatas dan biasanya hanya ada di kota-kota besar atau lebih spesifik kebanyakan berada di Jawa. Sedangkan banyak didaerah-daerah lain di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah yang sulit akses informasi atau di daerah-daerah yang para pendidiknya sengaja tak mencari informasi, model pendidikan seperti ini belumlah terlalu populer.

Weni hanyalah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang hak pendidikannya tak terpenuhi akibat kebutuhan khusus mereka tak terfasilitasi oleh sistem pendidikan nasional kita. Di belahan nusantara yang lain, mungkin masih banyak anak-anak yang mengalami nasib yang sama seperti Weni. Ketika sistem pendidikan nasional tak berpihak pada anak-anak dengan kesulitan belajar atau berkebutuhan khusus, dan ketika sekolah inklusi tidak terdapat di suatu daerah, maka hati nurani beserta integritas dan kreativitas guru/pendidik yang menjadi tumpuan terakhir bagi kita. Sejarah telah mencatat, seorang guru bernama Bu Muslimah, mau dan bersedia menerima Harun sebagai siswanya, sekalipun Harun seorang anak dengan keterbelakangan mental, bercampur dengan siswa lain dalam kelas biasa. Padahal aku yakin, ketika itu Bu Muslimah pasti belum pernah dengar tentang konsep sekolah inklusi. Kita berharap, guru mau bersikap inklusif dalam mendidik semua anak bangsa, bagaimanapun keadaannya. Semoga para guru mau merubah paradigma, bahwa tak hanya anak normal saja yang boleh sekolah.

sumber: http://www.rssfeedcentral.net/rssfeed/7952/Sungai_Kuantan%E2%84%A2.aspx

Add a comment May 10, 2010

kasus anak ADHD

Di usia 3-4 tahun, dimana biasanya anak-anak mulai bermain bersama, hugo lebih senang menyendiri. Kalaupun dia berada diantara teman-teman seusianya, dia tampak ‘tenggelam’ dalam dunianya sendiri. Bahasa umumnya agak2 autis…Tapi mungkin karena ‘kelainannya’ itu tidak dapat dikategorikan sebagai perilaku mengganggu, maka saya lalai untuk memeriksakan lebih lanjut.

Di sekolahnya yang baru disini, perilaku hugo yang agak berbeda dari anak seusianya tampak semakin jelas. Dia tampak tidak peduli pada apa yang terjadi di sekitarnya. Istilahnya ‘day dream’ sibuk dengan imajinasi nya sendiri. Di saat anak-anak lain bermain di play ground, hugo sibuk menggambar. Sampai dengan yang lain selesai bermain dan beralih pada session ‘story telling’ hugo masih sibuk menggambar ! Gurunya  menangkap ‘kelainan’ tsb dan mendiskusikan dengan saya. Beruntung, pihak sekolah memberikan perhatian sangat besar pada kondisi hugo. Dengan seijin kami sebagai orangtua, sekolah mendatangkan psikolog khusus untuk melakukan assesment. Hasilnya dikirim ke Andrea Way EDC ( early development centre ) sebuah lembaga pemerintah yang khusus menangani anak-anak diusia dini. Namanya milik pemerintah, antrian cukup panjang… 4 bulan dari tgl didaftarkan, akhirnya kami mendapatkan panggilan. Kali ini yang melakukan assesment paeditrician, dokter spesialis anak. Hasilnya ? seperti yang saya duga, hugo menderita ADHD ( attention deficit hyperactive disorder ). Beda dengan autism, anak2 penyandang ADHD ini memang mengalami masalah dalam hal fokus pada satu hal. Dokter menjelaskan panjang lebar mengenai hal ini dan menyarankan saya untuk mencari informasi lebih lengkap melalui buku & internet.

Add a comment May 10, 2010

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

February 2017
M T W T F S S
« May    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Most Recent Posts