kepribadian diri saya menurut teori psikoanalisis

December 1, 2009 putri novira

AUTOBIOGRAFI

Saya Novira Eka Putri, lahir pada tanggal 14 November 1989 di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Saya anak pertama dari 2bersaudara, mempunyai seorang adik laki-laki. Sekarang keluarga saya berdomisili di Muaro Sijunjung, Sumatera Barat. Sedangkan saya sendiri berdomisili di Depok, untuk melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi.

Orang tua saya bekerja sebagai PNS, sejak kecil saya telah dibiasakan hidup mandiri, karena orang tua bekerja dan kami juga tidak memiliki pembantu. Bahkan saat saya berumur 3tahun, saya tinggal bersama saudara di Bukittinggi, karena kedua orang tua saya sibuk dengan pekerjaannya.

Pada tahun 1994, saya mulai masuk sekolah TK di  TK Al-Qur’an Muaro Sijunjung, dan tahun 1995 saya mengulang masuk TK di TK Pertiwi Bukittinggi. Karena waktu itu saya tidak diterima masuk sekolah dasar di Bukittinggi, dengan Alasan umur saya kurang 4bulan dari 6tahun. Setelah menamatkan TK selama 2tahun, saya masuk sekolah dasar di SDN31Muaro Sijunjung dan melanjutkan SMP di SMPN7 Muaro Sijunjung. Lulus dari SMP saya masuk ke SMAN5 di Bukittinggi lagi. Dan sekarang melanjutkan keperguruan tinggi di Universitas Gunadarma Depok pada jurusan psikologi.

Dalam hubungan pertemanan, saya termasuk orang yang mudah dalam mencari teman, walaupun saya kurang bisa memulai duluan suatu perkenalan. Umumnya orang-orang yang pertama kali bertemu dengan saya, akan mengira saya orang yang pendiam, dan tidak banyak bicara. Memang seperti itu lah saya jika baru pertama bertemu dengan seseorang, saya akan lebih banyak diam, dan bicara yang seperlunya saja. Namun keadaan seperti itu akan berlangsung sampai saya merasa dekat dan terbiasa dengan orang tersebut, setelah itu sikap saya yang tadinya pendiam, akan berubah jadi yang lebih ceria, semangat, dan banyak bicara.

KEPRIBADIAN

Kepribadian yang menonjol dari diri saya adalah sikap egois dan cepat emosi. Sikap ini timbul sejak saya SMP. Saya menginginkan semua berjalan seperti apa yang saya inginkan. Apa yang saya inginkan harus terpenuhi. Saya juga cepat marah jika sesuatu sudah bertentangan dengan apa yang saya inginkan.

Namun sikap ini tidak selalu bisa saya limpahkan pada orang yang bersangkutan, tergantung dengan siapa saya berhadapan. Jika orang tersebut belum terlalu mengenal bagaimana saya, saya bisa sedikit bersabar dan menahan amarah. Tapi terkadang, jika marah saya tidak bisa dilimpahkan pada yang bersangkutan, biasanya saya akan mengangis.

Sikap cepat marah ini, bukan berarti saya orang yang sensitif dan gampang tersinggung. Saya bukan orang yang gampang tersinggung. Dan apabila saya merasa tersinggung dengan sikap atau perkataan seseorang, tidak selalu saya memperlihatkannya dengan marah pada orang tersebut, tergantung situasi dan kondisi pada saat itu.

Selain itu, saya juga memiliki sifat yang ekstrovert. Saya lebih terbuka dan suka sharing dengan orang lain, tetapi orang itu yang sudah saling kenal dengan saya. Namun tidak semua hal juga yang bisa saya ceritakan, masih ada hal-hal yang bersifat privacy yang tidak bisa saya ceritakan pada siapa pun, termasuk orang yang paling dekat dengan saya seperti orang tua. Tapi di luar dari hal tersebut saya bisa menceritakannya dengan teman atau saudara.

PEMBAHASAN (kasus dan teori)

  1. Kepribadian mudah marah.

Menurut Carl Gustav Jung (1921) berdasarkan fungsinya manusia dibagi dalam beberapa tipe kepribadian, salah satunya adalah kepribadian emosional atau perasaan. Merupakan fungsi evaluasi, yaitu perasaan memberikan kepada manusia pengalaman-pengalaman subjektifnya tentang kenikmatan dan rasa sakit, amarah, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, dan cinta. Terdapat pada orang-orang yang sangat dikuasai oleh emosinya, menilai sesuatu berdasarkan suka atau tidak suka.

Bentuk reaksi emosi amarah ini disebabkan hormon adrenalin meningkat, menyebabkan gelombang energi yang cukup kuat untuk bertindak dahsyat, maka tangan lebih mudah menghantam lawan, detak jantung meningkat. Dalam hal ini, terdapat kasus dalam kehidupan saya, yaitu ketika saya bertengkar dengan adik saya. Pada saat pertengkaran terjadi, emosi saya tidak dapat tertahankan, emosi yang keluar tidak hanya berupa verbal, tapi bisa berupa fisik, misalnya saya berusaha untuk memukul adik saya. Jika hal tersebut tidak terlampiaskan, amarah akan semakin meningkat dan saya melampiaskannya pada benda yang ada dekat saya, benda itu akan saya lemparkan pada adik saya.

Sesuai dengan kasus tersebut, merupakan contoh dari fungsi emosi berupa menyiapkan kita untuk beraktifitas, misalnya kita jadi beringas, jengkel, benci, kesal, berang, tersinggung, menyiapkan kita untuk bertindak melalui kompensasi positif atau negatif. Tindakan saya yang mengeluarkan amarah secara verbal misalnya kata-kata kasar dan melempar benda-benda merupakan contoh kompensasi negatif.

Intensitas reaksi emosi seseorang terhadap situasi (Jung,1903) merupakan ukuran lain tentang kekuatan suatu kompleks. Apabila jantung berdenyut lebih cepat, penafasan menjadi lebih dalam,dan muka menjadi merah,semua ini merupakan indikasi yang cukup baik bahwa suatu kompleks yang kuat berhasil ditemukan. Dengan menggabungkan gejala-gejala fisiologis dengan denyut nadi, pernafasan,dan perubahan-perubahan elektris pada konduktivitas kulit dengan tes asosiasi kata, maka bisa ditentukan secara agak tepat daya kompleks-kompleks seseorang.

  1. Kepribadian ekstrovert

Carl Jung menyatakan bahwa kepribadian ekstrovert adalah kepribadian yang terbuka, terdapat pada orang-orang yang lebih berorientasi keluar, kelingkungan, kepada orang lain. Orang-orang seperti ini ramah, senang bergaul, mudah mengerti perasaan orang.

Seorang ekstrovert bisa berfikir mendalam dan merenung akan diri dan kehidupan untuk pribadinya. Mereka bisa menjadi pribadi yang tenang dan  kalem, namun untuk membangkitkan energi hidupnya mereka akan lebih merasa semangat jika  berbagi dengan lingkungannya. Seorang ekstrovert perlu dunia sosial untuk menghidupkan diri dan membangkitkan  semangat hidupnya.

Kasus pada diri saya yaitu pengalaman yang saya alami sekarang. Semenjak saya putus dari pacar saya 1tahun yang lalu, saya merasa down dan trauma. Sikap seperti itu baru kali ini saya rasakan, sebelumnya setiap saya putus dari pacar tidak pernah merasa trauma dan tidak kapok untuk memulai hubungan khusus lagi dengan laki-laki. Namun, karena sifat saya yang suka cerita atau curhat dengan teman, saya slalu diberi semangat dan masukan-masukan yang membuat saya tetap bertahan dengan kondisi yang saya alami, sehingga rasa trauma itu lama kelamaan mulai berkurang dan menghasilkan semangat yang baru. Dukungan sosial sangat saya butuhkan untuk menumbuhkan semangat. Jika saya tipe orang yang introvert dan susah bergaul, dengan kondisi yang saya alami, mungkin saya slalu didekati oleh rasa trauma.

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: