GENDER

May 6, 2010 putri novira

GENDER

Perbedaan alami yang dikenal dengan perbedaan jenis kelamin sebenarnya hanyalah segala perbedaan biologis yang dibawa lahir antara perempuan dan laki-laki. Di luar semua itu adalah perbedaan yang dikenal dengan istilah gender. Perbedaan yang tidak alami atau perbedaan sosial mengacu pada perbedaan peranan dan fungsi yang dikhususkan untuk perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut diperoleh melalui proses sosialisasi atau pendidikan disemua institusi (keluarga, pendidikan, agama, adat dan sebagainya).

Gender penting dipahami dan dianalisis untuk melihat apakah perbedaan yang bukan alami ini telah menimbulkan diskriminasi dalam arti perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan terhadap perempuan. Apakah gender telah memposisikan perempuan secara nyata menjadi tidak setara dan menjadi subordinat oleh pihak laki-laki.

Gender adalah semua atribut sosial mengenai laki-laki dan perempuan, misalnya laki-laki digambarkan mempunyai sifat maskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah. Sementara perempuan digambarkan memiliki sifat feminin seperti halus, lemah, perasa, sopan, penakut. Perbedaan tersebut dipelajari dari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja, periklanan dan media.

Gender berbeda dengan seks. Seks adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilihat secara biologis. Sedangkan gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan secara sosial; masalah atau isu yang berkaitan dengan peran, perilaku, tugas, hak dan fungsi yang dibebankan kepada perempuan dan laki-laki. Biasanya isu gender muncul sebagai akibat suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan gender. Karena citra ideal itu rekaan budaya, disebut juga sebagai gender, dalam kenyataannya, tidak selalu demikian. Kita tahu ada saja perempuan yang tidak lemah lembut, yang agresif, pencari nafkah, dan de facto sebagai kepala keluaga. Sebaliknya kita juga sering menemui laki-laki yang lemah lembut, de facto bukan pencari nafkah, dan sebagainya. Akan tetapi gambaran gender itu tetap menjadi pedoman hidupnya dalam melihat dirinya maupun dalam melihat lawan jenisnya. Sebab itu bagi sebagian besar perempuan, yang masih kental dipengaruhi oleh gambaran ideal gender, akan sulit sekali keluar dari gambaran ideal itu, meskipun barangkali perempuan itu sudah berpendidikan tinggi, dengan jabatan struktural/fungsional, pernah tinggal/hidup di kebudayaan lain, dan sebagainya, karena memang sudah menjadi kebudayaannya.

Keadaan ini juga yang menjadi hambatan bagi perempuan untuk “tampil” dan berpartisipasi di domain yang secara budaya bukan domainnya. Ada rasa risi. Pekerjaan di kantor dalam hubungan citra budaya, bukanlah tempat perempuan. Kalaupun mereka bekerja, karena berbagai alasan memang harus bekerja, jarang mau “menonjolkan diri”, karena takut dijuluki berambisi atau agresif. Sebab itu banyak dari perempuan-perempuan yang berpotensi, dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, tidak mengembangkan kemampuannya. Padahal perempuan yang jumlahnya lebih dari separuh itu seharusnya merupakan sumber daya manusia yang potensial dan berkualitas. Dengan pendekatan gender, masalah-masalah yang dihadapi perempuan tidak dilihat terpisah. Dengan pendekatan ini, harus dipastikan bahwa perempuan seperti juga dengan laki-laki, mempunyai akses yang sama terhadap sumber-sumber dan kesempatan.

Ada paling sedikit empat faktor, yaitu :

  1. Konsep dalan kebijaksanaan dan program harus mencerminkan pengalaman laki-laki dan juga perempuan.
  2. Perempuan harus dipastikan ikut mempunyai akses dan mempunyai kontrol terhadap program.
  3. Dalam formulasi kebijaksanaan perencanaan maupun implementasinya perempuan harus ikut berpartisipasi.
  4. Dalam evaluasi dan monitoring harus ada sistem yang memperlihatkan dampak program terhadap perempuan.

Teori gender adalah teori yang membedakan peran antara perempuan dan laki-laki yang mengakibatkan perbedaan perlakuan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat Perbedaan ini tampaknya berawal dari adanya perbedaan faktor biologis antara perempuan dan laki-laki. Perempuan memang berbeda secara jasmaniah dari laki-laki, perempuan mengalami haid, dapat mengandung, melahirkan serta menyusui yang melahirkan mitos dalam masyarakat bahwa perempuan berhubungan dengan kodrat sebagai ibu. Banyak teori psikologi yang mendukung teori gender dan mereka mengembangkan pendapat bahwa perempuan dan laki-laki memang secara kodrat berbeda serta mempunyai ciri-ciri kepribadian yang berbeda.

Menurut perbedaan ciri-ciri kepribadian perempuan dan laki-laki terlihat sejak masa kanak-kanak:

  1. Anak laki-laki lebih banyak memperoleh kesempatan bermain di luar rumah dan mereka bermain lebih lama dari anak perempuan.
  2. Permainan anak laki-laki lebih bersifat kompetitif dan konstruktif. Ini disebabkan anak laki-laki lebih tekun dan lebih efektif dari anak perempuan.
  3. Permainan anak perempuan lebih banyak bersifat kooperatif dan lebih banyak berada di dalam ruangan.

Perbedaan-perbedaan biologis dan psikologis ini menimbulkan pendapat atau suatu kesimpulan di masyarakat yang pada umumnya merugikan pihak perempuan. Kesimpulan itu antara lain :

  1. Laki-laki lebih unggul dan lebih pandai dibanding anak perempuan.
  2. Laki-laki lebih rasional dari anak perempuan.
  3. Perempuan lebih diharapkan menjadi istri dan ibu

Menurut Shainess Squire (1989) perbedaan ini timbul karena teori gender diciptakan oleh laki-laki, dan dikembangkan berdasarkan norma dan sudut pandang laki-laki yang terkadang salah menginterpretasikan perempuan sehingga menimbulkan diskriminasi atau kerugian di pihak perempuan.

Menurut Maccoby (1979) perbedaan perilaku bagi perempuan dan laki-laki sebenarnya timbul bukan karena faktor bawaan sejak lahir tetapi lebih disebabkan karena sosial budaya masyarakat yang membedakan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki sejak awal masa perkembangan (masa kanak-kanak).

Di samping faktor biologis, bentuk tatanan masyarakat yang pada umumnya patriarchal juga membuat laki-laki lebih dominan dalam sistem keluarga dan masyarakat; hal ini sangat merugikan kedudukan perempuan.

GENDER DAN KESEHATAN

Kesehatan wanita memang menjadi dilema dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Banyak program pembangunan kesehatan yang ditujukan untuk wanita terbilang kurang berhasil. Sebagai contoh adalah pemberian pil besi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, namun masih gagal untuk mengurangi anemia wanita hamil. Di masa mendatang, bukan saja anemia, berbagai penyakit lain yang terbilang lebih sulit pengobatannya akan menjadi masalah; kanker khusus wanita, seperti rahim dan payudara, menunjukan prevalensi yang semakin meningkat. Penyakit lain, seperti HIV/AIDS juga akan lebih prevalen di tahun-tahun.

Perempuan Indonesia masih diperlakukan tidak adil dan masih merupakan masyarakat nomor dua. Masih banyak orang Indonesia yang berpendapat bahwa tempat yang paling utama bagi kaum perempuan adalah di rumah sebagai istri dan ibu pendidik bagi anak-anaknya. Bila dibutuhkan, perempuan Indonesia bisa bekerja mencari nafkah di luar rumah tetapi pendapatan yang diperolehnya biasanya bukan merupakan pendapatan pokok dalam rumah tangga tersebut. Pada saat ini di Indonesia jumlah perempuan yang bekerja sudah meningkat bila dibanding dengan kondisi 20 tahun yang lalu meskipun tetap belum seimbang dengan laki-laki;, 55% dari total populasi Indonesia adalah perempuan tetapi hanya 40 % dari kaum perempuan yang bekerja.

GBHN dan penjabarannya intinya menyebutkan bahwa perempuan Indonesia berfungsi sebagai isteri pengatur rumah tangga, sebagai tenaga kerja di segala bidang dan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Konsep ini membuat perempuan menjadi bingung untuk memilih antara terjun dalam kegiatan di luar rumah dan menjadi isteri serta ibu yang baik. Konsep ini tampaknya sangat berat untuk bisa dilakukan secara pro-porsional oleh kaum perempuan dan menjadi tidak adil bila hal ini harus dibebankan pada kaum perempuan.

Tembakau telah dikenali sebagai suatu faktor penyebab ketidaksetaraan jender (gender inequity) dan merongrong prinsip-prinsip hak kesehatan wanita dan anak-anak sebagai hak azasi manusia yang mendasar. Wanita mempunyai risiko yang spesifik jender dari tembakau dan Asap Rokok yang berasal dari Lingkunagan (ARL) atau Environmental Tobacco Smoke (ETS) berupa dampak negatif pada kesehatan reproduktif dan komplikasi-komplikasi selama kehamilan.

Penelitian di Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa peran suami dalam menentukan tempat dan penolong persalinan pada umumnya masih rendah, hanya 24.9 % suami (18.8% di pedesaan dan 29.2 % di perkotaan) ikut menganjurkan tempat persalinan. Dalam kondisi darurat seharusnya orang yang ada di sekelilingnya banyak membantu menganjurkan dan mengambil keputusan dalam penentuan tempat persalinan, terutama suaminya. Hal ini disebabkan oleh faktor kebiasaan/adat, sosial ekonomi dan kesediaan sarana pelayanan kesehatan ibu.

Permasalahan pembangunan berwawasan gender pada dasarnya adalah masalah pembangunan pada umumnya, tetapi dengan penekanan masalah ketimpangan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan, dan mengangkat permasalahan yang khusus melekat pada keadaan kaum perempuan, seperti masalah kesehatan reproduksi dan masalah kekerasan dalam keluarga dan tempat kerja. Perempuan di beberapa negara bekerja lebih lama daripada laki-laki dan kemungkinan setengah dari jumlah waktu kerja perempuan dipergunakan untuk pekerjaan yang tidak dibayar. Penghasilan perempuan merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas kehidupan yang secara langsung berdampak pada kesehatan, perkembangan dan kesejahteraan menyeluruh di dalam keluarga mereka.

Dikatakan juga masalah reproduksi kesehatan berkaitan dengan ketidakamanan yang berhubungan dengan kemiskinan. Perempuan miskin lebih banyak memiliki anak yang tidak diinginkan karena kurang mendapatkan akses terhadap pelayanan dan informasi kesehatan reproduksi.Kemungkinan terkena infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS, menambah risiko yang akan dihadapi oleh perempuan; ketidakadilan gender sering menghilangkan kemampuan perempuan untuk menolak praktek-praktek berisiko kekerasan seksual dan perilaku seksual, membuat perempuan tidak mendapat informasi mengenai pencegahan dan menempatkan mereka di urutan terakhir dalam pelayanan dan tindakan untuk menyelamatkan kehidupan.

Peningkatan pendidikan perempuan telah terbukti mempunyai kontribusi yang sangat besar untuk menurunkan angka anak kurang gizi, lebih penting dari perubahan dalam ketersediaan makanan. Pendidikan ibu menghasilkan peningkatan gizi. Menghilangkan kesenjangan gender dalam pendidikan juga membantu perempuan menurunkan tingkat kesuburan dan meningkatkan ketahanan anak. Di negara dengan jumlah anak perempuan yang ke sekolah hanya ½ dari jumlah anak laki-laki ternyata rata-rata jumlah kematian bayi/1000 kelahiran hidupnya 21,1 kali lebih tinggi dari negara yang tidak mempunyai kesenjangan gender.

Salah satu penelitian mengenai pandangan budaya dalam tugas pria dan wanita di masyarakat menunjukkan bahwa karena perang suku telah menjadi tradisi sejak kurun waktu lama, makin mantap pula adat menetapkan pembagian tugas pria dan wanita dalam lingkungan kerabat dan komunitas untuk mengakomodasi tradisi itu. Pria bertugas menjaga keamanan kerabat, klen dan kampung dari serangan musuh, sedangkan wanita bertugas menjaga kelangsungan hidup kerabat dan masyarakatnya dengan memelihara ladang untuk menghasilkan bahan makanan, dan memelihara ternak untuk keperluan upacara adat, upacara perdamaian setelah usainya perang suku, dan untuk peningkatan status dan gengsi sosial suami, bila mungkin menjadi panglima perang atau kepala suku.

Dimasyarakat, gender menentukan bagaimana dan apa yang harus diketahui oleh laki-laki dan perempuan mengenai masalah seksualitas, termasuk perilaku seksual, kehamilan dan penyakit menular seksual (PMS). Konstruksi sosial mengenai atribut dan peran feminin ideal menekankan bahwa ketidaktahuan seksual, keperawanan, dan ketidaktahuan perempuan mengenai masalah seksual merupakan tanda kesucian.

Data juga menunjukkan bahwa perbedaan definisi budaya diaplikasikan kepada laki-laki yang diharapkan lebih berpengetahuan dan berpengalaman sehingga mengambil posisi sebagai pengambil keputusan dalam masalah seksual. Penelitian juga membuktikan bahwa pandangan gender ini juga merupakan bagian dari proses sosialisasi sejak kanak-kanak dan bagaimana pengetahuan ini tertanam di antara laki-laki dan perempuan. Misalnya kemampuan remaja perempuan untuk mencari informasi atau membicarakan mengenai seks dibatasi oleh norma budaya yang kuat mengenai keperawanan. Remaja perempuan takut mencari informasi mengenai seks atau kondom karena menjadikan mereka dianggap aktif seksual tanpa memandang aktifitas seksual yang sebenarnya. Juga, jika keluarga mereka mengetahui bahwa mereka mencari pelayanan seksual, maka keperawanannya akan dipertanyakan.

Akibatnya perempuan tidak mendapat informasi yang cukup mengenai reproduksi dan seks. Contohnya, remaja perempuan banyak yang tidak mengetahui tubuh mereka sendiri, kehamilan, kontrasepsi dan PMS. Perempuan miskin dari sebuah negara berkembang menyatakan bahwa mereka tidak mendapatkan informasi apapun tentang seks sebelum pengalaman pertama mereka. Kurangnya informasi ini membatasi kemampuan perempuan untuk melindungi diri mereka sendiri dari HIV, serta malah menimbulkan ketakutan di antara perempuan mengenai penggunaan kondom. Hal itu terjadi karena dalam sebuah studi ditemukan bahwa perempuan takut memakai kondom karena takut tertinggal didalam vagina, lalu pindah ke kerongkongan. Ketakutan lainnya dalam memakai kondom adalah apabila kondom ditarik keluar maka organ reproduksinya akan turut terlepas. Studi lain menunjukkan bahwa kurangnya informasi mengenai tubuh mereka membatasi kemampuan perempuan untuk mengenali gejala gangguan pada organ reproduksinya akibat PMS.

Sudah waktunya perempuan dan laki-laki di Indonesia sama-sama berfungsi sebagai pengatur rumah tangga, sebagai tenaga kerja di segala bidang dan sebagai pendidik anak. Mungkin hal ini juga sudah dimulai di beberapa keluarga dari golongan tertentu tetapi jelas belum secara proporsional dan memasyarakat. Dengan tercapainya kondisi ini diharapkan terjalin hubungan lebih harmonis bagi perempuan dan laki-laki di Indonesia.

Perempuan juga harus dapat mempunyai kesempatan memilih dan meraih posisi yang sejajar dengan laki-laki di mayarakat. Untuk mewujudkan kondisi ini mau tidak mau kaum perempuan Indonesia harus sadar bahwa selama ini konsep yang berlaku adalah konsep yang berorientasi gender yang membuat membedakan peran antara perempuan dan laki-laki di Indonesia, padahal konsep ini menghambat kesempatan mereka. Kesadaran kaum perempuan Indonesia saat ini sangat dibutuhkan untuk dapat meningkatkan kondisinya di bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dll.. Sudah saatnya pula kaum perempuan Indonesia dapat membuat keputusan bagi dirinya sendiri tanpa harus dibebani konsep gender.

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

May 2010
M T W T F S S
« Apr    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: